Sumbawanews.com,- Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, aktivis dari Ecoton menggelar aksi kreatif di Surabaya, Jawa Timur, Jumat (5/6/2026). Mereka menuntut pembersihan sungai-sungai dari limbah industri dan sampah plastik, sekaligus memperjuangkan perlindungan habitat alami biota air. Dengan spanduk bertuliskan “Sungai Bersih, Hidup Layak,” para aktivis memadati tepian Sungai Surabaya, menggelar pameran sampah yang diambil dari aliran sungai, serta membagikan benih ikan asli sebagai simbol restorasi ekosistem.
Pencemaran sungai di Indonesia, menurut Ecoton, bukan lagi masalah lokal—tapi krisis nasional yang mengancam rantai makanan, kualitas air minum, dan kelangsungan hidup spesies endemik seperti ikan baung dan lele dumbo. Data terbaru menunjukkan lebih dari 60% sungai utama di Jawa mengandung limbah kimia melebihi ambang batas aman, sementara sampah plastik mendominasi 70% volume pencemaran.
“Sungai bukan tempat pembuangan akhir. Ia adalah urat nadi kehidupan,” ujar Rina Putri, koordinator aksi dari Ecoton. “Kita tidak hanya meminta kebersihan, tapi keadilan lingkungan—di mana industri tidak lagi bebas mencemari, dan masyarakat tidak lagi menjadi korban.”
Aksi ini berlangsung damai, namun menggema luas. Di Jakarta, Forum Masyarakat Indonesia Emas (FORMAS) menggelar FGD bertema “Pendidikan Lingkungan sebagai Fondasi Indonesia Emas 2045,” dengan menghadirkan Wakil Menteri Ketenagakerjaan Afriansyah Noor dan anggota DPR M Nur Purnamasidi. Mereka menekankan pentingnya integrasi pendidikan lingkungan dalam kurikulum nasional, sejalan dengan upaya pemerintah mewajibkan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga di DKI Jakarta melalui Instruksi Gubernur No. 5/2026.
Sementara itu, di Taman Safari Indonesia II Prigen, kelahiran dua anak harimau Sumatera—spesies yang terancam punah—menjadi simbol harapan. Bayi-bayi berusia 43 hari itu, hasil pengembangbiakan dari pasangan Praja dan Dini, menjadi bukti bahwa konservasi masih mungkin jika dilakukan dengan komitmen ilmiah dan kepedulian sosial.
Namun, di tengah upaya pelestarian, krisis korupsi di sektor lingkungan terus menghambat kemajuan. KPK baru saja menahan Wakil Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Silmy Karim, serta sejumlah pejabat lain terkait OTT di Kantor Imigrasi Jakarta Barat, yang mengungkap jaringan suap pengurusan izin TKA dan dokumen keimigrasian—praktik yang sering memperlemah pengawasan lingkungan akibat izin yang diberikan tanpa evaluasi dampak ekologis.
Di Gaza, serangan militer Israel yang terus berlanjut memakan korban sipil, termasuk anak-anak, menjadi pengingat bahwa lingkungan dan kemanusiaan tak bisa dipisahkan. Sementara di Jakarta, rupiah terus melemah ke Rp18.019 per dolar AS, menekan anggaran lingkungan yang sudah terbatas.
Dalam satu hari yang penuh kontras—dari kelahiran harimau hingga penahanan pejabat korup—aktifis lingkungan menegaskan: keberlanjutan bukan sekadar isu, tapi pilihan moral. Dan pilihan itu harus dibuat sekarang, bukan nanti.

















