Sumbawanews.com,- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa fundamental pasar modal Indonesia dan kinerja emiten tetap solid meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, menyatakan bahwa mayoritas perusahaan tercatat masih mampu membukukan laba, dengan pertumbuhan laba agregat melebihi 21 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Data laporan keuangan triwulan I 2026 menunjukkan ketahanan sektor korporasi yang signifikan, meskipun IHSG sempat anjlok hingga 4,2 persen pada penutupan perdagangan Jumat (5/6) ke level 5.594,77. Koreksi ini merupakan kelanjutan dari penurunan 11,92 persen secara bulanan dan 29,14 persen secara tahunan hingga akhir Mei. Penurunan tajam dalam sehari—hingga 4,11 persen pada Rabu (3/6)—disebut OJK sebagai respons pasar terhadap kombinasi faktor domestik dan global, termasuk rebalancing portofolio investor akibat perubahan komposisi indeks global.
Hasan menekankan bahwa volatilitas harga saham tidak serta-merta mencerminkan melemahnya fondasi ekonomi perusahaan. Sebaliknya, ia menilai bahwa data historis dan proyeksi kinerja emiten justru menjadi dasar rasional bagi investor untuk menentukan strategi jangka panjang. “Kami mengimbau agar investor tidak terjebak dalam reaksi emosional terhadap fluktuasi jangka pendek,” ujarnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan Mei 2026 di Jakarta.
Ia menambahkan, transparansi informasi dan keterbukaan laporan keuangan emiten menjadi kunci utama dalam pengambilan keputusan investasi yang bijak. “Dalam kondisi pasar yang penuh tekanan, analisis berbasis data yang valid dan terkonfirmasi adalah senjata terbaik investor,” tegas Hasan.
OJK juga menyoroti bahwa likuiditas pasar saham domestik tetap tinggi, menunjukkan minat yang masih kuat dari para pelaku pasar. Meski IHSG terpukul oleh sentimen eksternal seperti kebijakan moneter global dan pelemahan mata uang, struktur fundamental ekonomi Indonesia—dari pertumbuhan laba perusahaan hingga daya beli konsumen—tetap menjadi penyangga utama ketahanan pasar modal.
Dengan demikian, OJK memandang koreksi IHSG sebagai fase konsolidasi alami dalam siklus pasar, bukan tanda keruntuhan. Investor diminta tetap tenang, fokus pada kinerja perusahaan, dan menghindari spekulasi berbasis rumor. Di tengah turbulensi, fondasi yang kuat tetap menjadi penentu utama keberlanjutan pasar modal Indonesia.

















