Sumbawanews.com,- Jakarta, 28 Juni 2026 — Sebanyak 300 orang dari berbagai lapisan masyarakat sipil, termasuk akademisi, guru besar, aktivis, dan mahasiswa, berkumpul di kampus Salemba Universitas Indonesia untuk menggelar Konsolidasi Nasional Konferensi Republik. Acara yang bertajuk “Jalan Menata Kembali Republik” ini digelar pada Ahad pagi, sebagai tindak lanjut dari pertemuan pertama di Yogyakarta pada 30 Mei lalu.
Mandira Bienna Elmir, Ketua Forum Indonesia Muda, menegaskan bahwa forum ini terbuka bagi siapa pun yang merasa resah terhadap arah bangsa saat ini. “Ini bukan milik kelompok tertentu. Ini ruang bagi keresahan bersama,” ujarnya dalam wawancara sehari sebelum acara. Ia menyebut, meski belum ada konfirmasi resmi dari badan eksekutif mahasiswa (BEM), sejumlah mahasiswa tetap hadir sebagai individu, bukan sebagai representasi institusi.
Sekretaris Umum Panitia, Yanuar Nugroho, menjelaskan bahwa konsolidasi ini bukan upaya membentuk organisasi baru, melainkan mempertemukan simpul-simpul masyarakat sipil yang sudah mandiri namun memiliki kekhawatiran serupa. “Kami tidak ingin melebur identitas kelompok. Kami ingin menghubungkan, memperkuat, dan menyelaraskan gerakan,” katanya.
Tiga poin utama menjadi agenda kunci: pertama, merumuskan landasan filosofis—nilai, tujuan, dan arah gerakan Konferensi Republik; kedua, menetapkan struktur jaringan dan mekanisme kerja yang inklusif; ketiga, menentukan bentuk kepemimpinan kolektif yang transparan dan tidak monopolistik. “Kepemimpinan harus ada, tapi tidak boleh menjadi pusat tunggal. Kita butuh orang yang bekerja di depan, di belakang, dan di antara,” tambah Yanuar.
Konsolidasi ini lahir dari temuan bersama dalam pertemuan di UGM yang menyoroti krisis multidimensi: lembaga demokrasi yang kehilangan fungsi representasi, keterputusan antara negara dan warga, serta kegagalan sistem dalam menjamin keadilan sosial. Berbeda dengan aksi massa, Konferensi Republik menawarkan ruang refleksi dan perencanaan strategis—tempat di mana kekhawatiran berubah menjadi agenda kolektif.
Tidak ada seruan untuk menggulingkan pemerintah, tidak pula dukungan eksplisit terhadap partai politik. Yang muncul adalah keinginan kuat untuk membangun kembali fondasi republik melalui solidaritas sipil yang terorganisir, tanpa kekerasan, tanpa polarisasi, dan tanpa kepentingan elit.
Dengan hadirnya para intelektual, aktivis, dan generasi muda yang sama-sama merasa kehilangan arah, konsolidasi ini bukan sekadar pertemuan. Ia adalah mimpi kecil yang dibangun dari kerinduan akan republik yang lebih adil—sebuah langkah pertama menuju perubahan yang tidak lagi menunggu keajaiban, tapi dimulai dari kesadaran bersama.















