Home Berita Nasional 21 Juni: Lahirnya Jokowi, Wafatnya Bung Karno, dan Redupnya Pers

21 Juni: Lahirnya Jokowi, Wafatnya Bung Karno, dan Redupnya Pers

Sumbawanews.com,- Tanggal 21 Juni bukan sekadar hari biasa dalam kalender. Di hari ini, sejarah Indonesia menyimpan tiga momen yang mengguncang: kelahiran seorang pemimpin yang merubah wajah politik modern, kepergian sang proklamator, dan sebuah langkah represif yang memadamkan suara kebebasan.

Pada 21 Juni 1961, di sebuah rumah sederhana di Surakarta, Joko Widodo lahir dari pasangan suami-istri yang berprofesi sebagai tukang kayu dan penjual es. Anak ketiga dari lima bersaudara ini tumbuh dalam kesederhanaan, namun membawa mimpi besar. Lulusan Fakultas Kehutanan UGM itu kemudian merintis karier sebagai pengusaha mebel sebelum memutuskan terjun ke politik. Kepemimpinannya sebagai Wali Kota Surakarta yang bersih dan inovatif menjadi pintu gerbangnya menuju Jakarta. Pada 2014, ia terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia ke-7, menggantikan Susilo Bambang Yudhoyono, dan memimpin negeri ini selama dua periode hingga 2024.

Tepat sembilan tahun sebelum kelahiran Jokowi, pada 21 Juni 1970, Indonesia kehilangan salah satu tokoh paling ikonik dalam sejarahnya. Presiden pertama, Soekarno, meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta, dalam usia 69 tahun. Dalam kondisi kesehatan yang terus menurun akibat gangguan ginjal yang tak kunjung sembuh, Bung Karno meninggalkan warisan tak ternilai: proklamasi kemerdekaan, semangat anti-kolonialisme, dan gagasan tentang Indonesia sebagai bangsa yang berdaulat dan berkepribadian. Kematian sang proklamator terjadi di tengah masa keheningan politik yang dipaksakan — ketika suaranya yang dulu menggema di seluruh dunia kini teredam oleh kekuasaan yang berbeda.

Namun, satu peristiwa lain yang tak kalah penting namun sering terlupakan terjadi pada 21 Juni 1974: pembredelan puluhan media cetak oleh pemerintah Orde Baru. Dalam satu hari, 17 surat kabar dan majalah — termasuk majalah kritis seperti *Tempo*, *DeTik*, dan *Editor* — dilarang beredar. Alasannya: “mengganggu stabilitas nasional.” Tindakan ini menjadi simbol puncak represi terhadap kebebasan pers di era Soeharto. Jurnalis-jurnalis ditangkap, redaksi ditutup, dan kritik terhadap kekuasaan dianggap sebagai pengkhianatan. Pers yang sebelumnya menjadi alat pencerahan, tiba-tiba berubah menjadi alat propaganda. Dampaknya bertahan puluhan tahun — hingga reformasi 1998 membuka kembali ruang bagi kebebasan berekspresi.

Tiga peristiwa dalam satu hari: kelahiran, kematian, dan pembungkaman. Masing-masing menjadi cermin dari fase berbeda dalam perjalanan bangsa. Jokowi lahir sebagai simbol harapan baru dari bawah; Soekarno pergi sebagai simbol keagungan masa lalu; dan pembredelan pers menjadi tanda bahwa kekuasaan tak selalu menghargai kebenaran.

Hari ini, 21 Juni, bukan hanya soal peringatan. Ia adalah renungan: di mana kita berdiri dalam panjangnya sejarah yang terus menulis ulang dirinya sendiri.

Previous articleUni Eropa Buka Saluran Diplomasi Langsung dengan Rusia
Next articleFrans 168 Kali Kirim Uang Narkoba ke Gembong di Thailand
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.