Sumbawanews.com,- 1 Juli 1994, Ramallah — Pagi itu, udara di Jalur Gaza bergetar oleh sorak-sorai ratusan ribu warga yang menanti kehadiran seorang pemimpin yang telah lama dirindukan. Yasser Arafat, ketua Organisasi Pembebasan Palestina (PLO), tiba setelah 27 tahun di pengasingan, menginjakkan kaki di tanah Palestina untuk pertama kalinya sejak didepak dari wilayah itu pada 1967. Kepulangannya bukan sekadar perjalanan fisik—ia adalah simbol kebangkitan sebuah bangsa yang menuntut haknya.
Dengan mengenakan seragam militer dan keffiyeh khasnya, Arafat melintasi perbatasan Rafah dari Mesir, didampingi Presiden Hosni Mubarak. Dalam perjalanan menuju Kairo sebelumnya, ia mengungkapkan perasaan yang mengguncang hati. “Saya kembali ke tanah Palestina merdeka pertama. Anda dapat membayangkan betapa hal itu menggerakkan hati dan perasaan saya,” katanya, seperti dilansir BBC.
Kedatangannya diawasi ketat oleh pasukan Israel, yang menggelar operasi keamanan terbesar sejak kunjungan Anwar Sadat ke Yerusalem pada 1977. Kekhawatiran serangan dari kelompok ekstremis di kedua belah pihak membuat rute perjalanan Arafat diubah demi keamanan, terutama setelah ancaman dari pemukim Israel di Kfar Darom.
Di Kota Gaza, ia disambut oleh gelombang manusia yang memadati jalanan, berteriak nama-nama yang selama decades hanya terdengar di radio dan koran. Dari balkon bekas markas militer Israel di Lapangan Parlemen, Arafat berpidato kepada sekitar 200.000 pendukungnya—mengumumkan dimulainya pemerintahan otonom Palestina di Gaza dan Yerikho, hasil dari Perjanjian Kairo yang ditandatangani sebulan sebelumnya, sebagai kelanjutan dari Perjanjian Oslo 1993.
Meski menjabat sebagai pemimpin otoritas Palestina pertama, Arafat tetap menegaskan bahwa Yerusalem adalah jantung perjuangan bangsanya. Namun, dalam kunjungan singkat selama tiga hari itu, ia memilih tidak memasuki kota suci itu, demi menjaga stabilitas dan menghindari eskalasi konflik.
Tidak semua menyambutnya dengan gembira. Di Yerusalem dan beberapa wilayah Tepi Barat, demonstrasi anti-perdamaian meledak. Kelompok radikal mengecam langkah Arafat sebagai pengkhianatan terhadap perjuangan bersenjata. Tapi bagi jutaan warga Palestina yang hidup di bawah pendudukan, kedatangannya adalah bukti nyata bahwa harapan bisa menjadi kenyataan.
Kepulangan Arafat pada 1 Juli 1994 menjadi titik balik sejarah—menutup babak dua puluh tujuh tahun pengasingan, sekaligus membuka lembaran baru dalam perjalanan Palestina menuju otonomi. Meski proses perdamaian kemudian terhambat oleh kekerasan, pembunuhan, dan ketidakpercayaan yang berulang, momen itu tetap melekat dalam ingatan kolektif bangsa Palestina: saat seorang pemimpin yang diusir kembali, bukan sebagai pengungsi, tapi sebagai kepala negara yang diakui.















