Sumbawanews.com,- Ibu kota Selandia Baru, Wellington, dilanda kekacauan sanitasi setelah badai hebat merusak saluran pembuangan limbah utama, menyebabkan luapan tinja dan produk sanitasi membanjiri permukiman di kawasan Island Bay. Kejadian ini terjadi pada Kamis (4/6) malam, saat curah hujan mencapai 25,7 milimeter dalam waktu dua jam, disertai lebih dari 5.000 sambaran petir yang membebani sistem drainase kota.
Perusahaan pengelola air limbah, Wellington Water, mengonfirmasi bahwa pipa utama tersumbat akibat debit air yang melampaui kapasitas, sehingga limbah mentah mengalir ke permukiman. Lima rumah terdampak langsung, dengan laporan warga bahwa jalanan penuh potongan tinja, tampon, dan cairan berwarna cokelat pekat. Richard Peters, seorang warga setempat, menggambarkan situasinya sebagai “menjijikkan” dan sulit dilupakan.
Tim darurat segera dikerahkan dengan truk penyedot limbah untuk membersihkan area terdampak dan mendisinfeksi rumah-rumah yang terkontaminasi. Wellington Water menekankan bahwa mereka bekerja sama erat dengan pemilik properti untuk memulihkan kondisi sanitasi secepat mungkin.
Kondisi ini memperburuk masalah yang sudah berlangsung sejak Februari lalu, ketika fasilitas pengolahan limbah Moa Point rusak akibat badai serupa. Sejak saat itu, jutaan liter limbah belum terolah terus mengalir ke laut lepas pantai selatan Wellington. Meski sejumlah perbaikan darurat telah dilakukan, instalasi pengolahan baru baru akan beroperasi penuh pada November mendatang.
Dalam upaya melindungi kesehatan publik, otoritas mengimbau warga untuk menjauhi Teluk Tarakena dan seluruh pantai Wellington—termasuk aktivitas berenang, berselancar, atau bermain kayak—hingga pemberitahuan lebih lanjut. Badan Meteorologi Selandia Baru (Metservice) memperingatkan bahwa cuaca ekstrem masih berpotensi terulang dalam beberapa hari ke depan, menambah tekanan pada infrastruktur kota yang sudah rapuh.
Kejadian ini memicu kritik terhadap ketahanan sistem infrastruktur kota, terutama di tengah meningkatnya frekuensi cuaca ekstrem akibat perubahan iklim. Warga dan ahli lingkungan mendesak pemerintah untuk segera mempercepat rencana modernisasi jaringan limbah, sebelum bencana serupa kembali terjadi—bukan hanya sebagai masalah sanitasi, tapi sebagai ancaman nyata terhadap kesehatan masyarakat dan daya tarik kota sebagai ibu kota negara.

















