Home Berita Internasional Uni Eropa Raksasa Aturan, Tapi Lemah di Panggung Dunia

Uni Eropa Raksasa Aturan, Tapi Lemah di Panggung Dunia

Sumbawanews.com,- Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menyerang keras struktur birokrasi Uni Eropa, menyebutnya sebagai “raksasa aturan” yang justru tak berdaya menghadapi tantangan global. Dalam pidato berbobot di hadapan para pengusaha Italia di La Nuvola, Roma, Meloni menegaskan bahwa Eropa kini lebih ahli dalam mengeluarkan peraturan daripada mempertahankan daya saingnya di kancah internasional.

“Kita punya ribuan aturan, tapi tak punya suara yang cukup kuat untuk membela kepentingan kita di dunia,” ujar Meloni, di hadapan Presiden Sergio Mattarella dan para pemimpin industri. Ia menekankan bahwa kekuatan Italia bukanlah pada keindahan seni atau pariwisata semata, melainkan pada ketangguhan industri dan inovasi para pekerja lokal yang menjadi tulang punggung reputasi nasional.

Meloni menilai, pendekatan ideologis Brussel yang terlalu fokus pada regulasi lingkungan, digital, dan sosial justru membebani sektor produksi. Sementara negara-negara seperti AS, Tiongkok, dan India berlomba membangun infrastruktur, memperkuat rantai pasok, dan menarik investasi dengan kebijakan yang fleksibel, Eropa justru terjebak dalam prosedur yang rumit dan lambat.

“Kita mengatur cara orang memakai sendok, tapi diam saja ketika pabrik-pabrik kita tutup karena tak mampu bersaing dengan subsidi asing,” tegasnya, mengutip contoh nyata dari sektor manufaktur dan energi.

Pidato ini bukan sekadar kritik, tapi sinyal politik strategis. Meloni, yang sejak awal memperjuangkan kedaulatan nasional di atas sentralisasi Uni Eropa, ingin mendorong reformasi besar-besaran. Ia menyerukan agar Brussel berhenti menjadi “dokter yang ogah menyembuhkan pasien”—seperti pernyataan sebelumnya oleh Wakil PM Italia—dan mulai bertindak sebagai mitra strategis yang mendukung pertumbuhan, bukan menghambatnya.

Kritiknya muncul di tengah perlambatan ekonomi Eropa, tekanan industri akibat kenaikan energi, dan persaingan global yang semakin sengit. Negara-negara anggota mulai meragukan efektivitas kebijakan Uni Eropa yang sering dianggap terlalu idealis dan kurang responsif terhadap realitas pasar.

Dengan pidato ini, Meloni tidak hanya membela kepentingan Italia, tapi juga memperkuat gerakan nasionalis pro-industri yang kian menguat di Eropa. Ia menantang para pemimpin Eropa: apakah mereka ingin tetap menjadi raksasa aturan yang takut mengambil risiko, atau bangkit menjadi kekuatan dunia yang nyata—dengan kebijakan yang berani, cepat, dan berpihak pada produktivitas?

Di akhir pidatonya, Meloni menutup dengan kalimat yang menggema: “Kita tidak dibangun untuk mengatur dunia. Kita dibangun untuk mengubahnya.”

Previous articlePaskibraka Diharapkan Jadi Mercusuar Pancasila di Tengah Arus Informasi
Next article**Destiny 2 Resmi Berakhir Setelah 9 Tahun**
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik