Sumbawanews.com,- Presiden Recep Tayyip Erdogan berhasil membalikkan tekanan ekonomi nasional dengan menjadikan industri pertahanan sebagai tulang punggung ekspor Turki. Di tengah perlambatan perdagangan global dan defisit neraca dagang yang sempat mengkhawatirkan, ekspor produk teknologi tinggi—terutama senjata dan sistem pertahanan—justru menjadi penyelamat bagi perekonomian Ankara.
Data Kementerian Perdagangan Turki menunjukkan, pada Mei 2026, total ekspor negara itu turun 9,3 persen menjadi 22,5 miliar dolar AS. Namun, defisit perdagangan justru menyempit 15,7 persen menjadi 42,7 miliar dolar AS. Kuncinya bukan pada peningkatan penjualan, melainkan pada penurunan impor yang lebih tajam: impor anjlok 10,7 persen menjadi 28,1 miliar dolar AS, terutama akibat penurunan drastis impor emas dan otomotif.
Namun, di balik angka-angka makro itu, ada satu sektor yang bergerak liar: industri pertahanan. Meski ekspor keseluruhan lesu, produk teknologi menengah-tinggi dan teknologi tinggi—yang sebagian besar adalah drone tempur, sistem pertahanan udara, dan peralatan militer canggih—telah menyumbang 44 persen dari total ekspor Turki sepanjang Januari hingga Mei 2026. Nilainya mencapai lebih dari 49 miliar dolar AS dalam periode lima bulan itu.
Erdogan, yang sejak awal membangun strategi “kekuatan militer sebagai alat diplomasi,” kini memetik hasilnya. Turki bukan lagi sekadar pengekspor tekstil atau buah-buahan. Ia telah bertransformasi menjadi salah satu dari sepuluh negara terbesar pengekspor senjata di dunia, dengan produk-produknya yang diakui mampu bersaing dengan Barat, namun dengan harga lebih kompetitif dan fleksibilitas politik yang lebih tinggi.
Uni Eropa tetap menjadi pasar utama, menyerap 43 persen dari total ekspor Turki—dengan Jerman, Amerika Serikat, Inggris, Italia, dan Prancis sebagai penerima terbesar. Tapi yang lebih menarik adalah pertumbuhan pasar di Timur Tengah dan Afrika. Meski konflik AS-Israel-Iran sempat membuat ekspor ke negara-negara Teluk anjlok hingga 30 persen pada Maret, permintaan pulih cepat pada April dan Mei, terutama dari negara-negara yang mencari alternatif senjata selain AS dan Rusia.
Tak hanya menjual senjata, Turki juga menawarkan pelatihan militer, dukungan logistik, dan bahkan integrasi sistem pertahanan. Di Libya, Suriah, dan Azerbaijan, pasukan Turki bahkan beroperasi secara langsung di bawah komando bersama—mengubah hubungan dagang menjadi kemitraan strategis yang sulit diputus.
Sementara negara-negara lain terjebak dalam resesi dan ketidakpastian geopolitik, Turki justru memanfaatkan kekacauan sebagai peluang. Dengan kebijakan industri pertahanan yang terintegrasi penuh antara pemerintah, perusahaan militer swasta seperti Baykar dan Roketsan, dan militer, Erdogan berhasil menciptakan mesin ekonomi yang tidak bergantung pada fluktuasi harga komoditas atau tekanan dari bank sentral asing.
Dalam pidatonya beberapa pekan lalu, Erdogan menegaskan: “Kita tidak menjual senjata. Kita menjual kedaulatan—bagi negara-negara yang ingin menentukan nasibnya sendiri.”
Di tengah dunia yang semakin terpecah, Turki telah menjadi pemasok andalan bagi mereka yang tidak ingin bergantung pada blok-blok besar. Dan di balik setiap drone TB2 yang melintas di langit Afrika atau setiap sistem SİPER yang dipasang di tepi Laut Hitam, ada satu realitas yang tak terbantahkan: kekuatan militer Turki kini adalah salah satu aset ekonomi paling strategis di abad ke-21.

















