Sumbawanews.com,- Presiden Donald Trump mengajukan sejumlah perubahan signifikan terhadap kerangka kesepakatan damai yang sedang dinegosiasikan dengan Iran, menurut laporan media Amerika Serikat, memperpanjang ketidakpastian di tengah konflik militer yang telah berlangsung sejak Februari lalu. Perubahan yang diajukan Trump ditegaskan bertujuan memperkuat poin-poin kunci, terutama terkait pengendalian bahan nuklir Iran dan akses bebas melalui Selat Hormuz—jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen minyak dunia.
Laporan dari The New York Times menyebut, pemerintah AS telah mengirim kembali kerangka kesepakatan yang telah dimodifikasi kepada pihak Iran untuk ditinjau ulang. Namun, rincian spesifik perubahan tersebut belum diungkap secara resmi. Sumber di Washington mengatakan Trump menekankan agar Iran secara permanen menyerah pada ambisi pengembangan senjata nuklir, sebuah tuntutan yang sejalan dengan posisi lama AS, namun kini diperkuat dengan tekanan politik yang lebih keras.
Seorang pejabat tinggi AS mengungkapkan kepada Axios bahwa Iran membutuhkan waktu hingga tiga hari untuk merespons, mengingat keterbatasan infrastruktur komunikasi di lingkungan elit militer Tehran. “Mereka benar-benar berada di gua-gua, dan tidak pakai email,” ujar pejabat itu, menggambarkan kesulitan komunikasi dalam proses negosiasi yang semakin rumit.
Meski demikian, pemerintah AS menegaskan kesabaran mereka. “Akan ada kesepakatan. Kapan itu terjadi? Kita lihat. Kita bersedia menunggu—seminggu, lebih, atau kurang. Kami berharap ada kejelasan di awal minggu ini,” kata sumber tersebut.
Sementara itu, Iran tetap menegaskan posisinya: tidak berniat membangun senjata nuklir. Pernyataan ini diperkuat oleh kesaksian mantan Direktur Intelijen Nasional AS, Tulsi Gabbard, kepada Kongres pada Maret 2025, yang menyatakan bahwa AS terus menilai Iran tidak sedang mengembangkan senjata nuklir. Pernyataan serupa juga diulang oleh otoritas Tehran dalam beberapa pekan terakhir.
Di sisi lain, Komando Pusat Khatam al-Anbiya militer Iran kembali menegaskan kendali penuh atas Selat Hormuz. Dalam pernyataan resmi, mereka memperingatkan bahwa kapal komersial dan militer asing yang tidak mematuhi aturan pelayaran di wilayah tersebut akan menjadi target. Pernyataan ini muncul tepat setelah Trump menunda keputusan akhirnya usai rapat darurat di Ruang Situasi Gedung Putih pada Jumat lalu.
Kesepakatan yang sedang digodok berpotensi mengakhiri konflik bersenjata yang dimulai pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan udara dan darat terhadap target-target strategis di Iran. Namun, dengan perubahan yang diajukan Trump, proses negosiasi kini berada di persimpangan kritis—di mana setiap kata, setiap syarat, bisa menentukan apakah perang akan berakhir, atau justru memburuk.















