Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengakui melontarkan kata-kata kasar kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dalam percakapan telepon pada Senin, 1 Juni 2026. Dalam wawancara dengan *New York Post*, Trump mengaku kecewa atas keputusan Netanyahu yang tetap berencana membombardir Lebanon, langkah yang menurutnya mengacaukan upaya AS untuk mencapai gencatan senjata dengan Iran.
“Saya bilang, ‘Apa Anda gila? Apa yang sebenarnya Anda lakukan? Saya membantu Anda agar tidak masuk penjara,’” kata Trump menirukan ucapan yang ia sampaikan. “Saya memang mengatakannya.” Ia menambahkan, “Saya agak kesal dengan tindakannya yang terus berperang dengan Lebanon. Saya bilang, ‘Bibi, kita harus menghentikan ini.’”
Ketegangan itu muncul di tengah upaya diplomatik AS untuk meredam konflik regional yang memanas sejak Februari lalu. Iran, yang menjadikan penghentian serangan Israel terhadap Lebanon sebagai syarat utama dalam negosiasi damai dengan Washington, dikabarkan sempat menghentikan pembicaraan setelah serangan udara Israel melanda wilayah perbatasan.
Trump mengakui bahwa hubungannya dengan Netanyahu tetap “sangat baik” dan ia “sangat menyukai Bibi.” Namun, ia menegaskan bahwa kebijakan militer Israel kali ini dinilainya terlalu impulsif dan berisiko merusak semua pencapaian diplomasi yang telah ia bangun selama masa kepresidenannya.
Komentar Trump ini memperkuat laporan sebelumnya bahwa ia marah bukan hanya karena Netanyahu mengabaikan saran AS, tetapi juga karena tindakan Israel dinilai mengancam kredibilitas diplomasi AS di mata Teheran. Beberapa pengamat pun mempertanyakan apakah kemarahan Trump itu murni kekhawatiran strategis, atau justru refleksi dari kekecewaan pribadi atas ketidakpatuhan sekutu dekatnya.
Meski demikian, Trump tetap menegaskan posisinya sebagai pendukung utama Israel. “Kalau bukan karena saya, Israel mungkin sudah tidak ada,” ujarnya dalam pernyataan terpisah, merujuk pada kebijakan-kebijakan pro-Israel yang ia luncurkan saat menjabat presiden sebelumnya.
Percakapan itu menjadi sorotan global, mengingat keduanya adalah dua tokoh paling berpengaruh dalam konflik Timur Tengah—dan kini, kembali menjadi pusat perhatian di tengah ancaman perang yang semakin menganga.















