Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Menteri Pertahanan Pete Hegseth memanfaatkan upacara peringatan 25 tahun serangan 11 September 2001 di Pentagon untuk memperkuat justifikasi perang AS-Israel melawan Iran. Dalam pidatonya, Trump menyatakan bahwa perjuangan melawan Iran merupakan kelanjutan dari komitmen nasional pasca-9/11, dengan menekankan bahwa Republik Islam Iran adalah negara sponsor teror nomor satu di dunia yang harus dicegah memiliki senjata nuklir. Ia menegaskan, “Kita tidak punya pilihan. Hanya kemenangan yang bisa diterima. Kita berjuang keras. Kita berjuang untuk menang.”
Hegseth menyambung narasi itu dengan menyebut Iran sebagai “teokrasi Islam yang telah menginginkan kematian kita selama hampir setengah abad,” dan mengklaim bahwa tekanan ekonomi terhadap Iran terus diperketat, sambil menjanjikan bahwa kapal-kapal milik Iran akan dikirim ke dasar laut. Ia juga memuji Trump atas upaya melumpuhkan kemampuan militer Iran dan menyerukan lahirnya generasi baru pejuang yang siap berkata, “kirim saya” saat saat paling menentukan tiba.
Pidato kedua tokoh itu berbeda dengan nuansa khidmat yang biasa menyertai peringatan 9/11, yang biasanya berfokus pada penghormatan kepada korban. Sementara itu, Wakil Presiden AS JD Vance hadir di Ground Zero, New York, sementara Trump memilih tetap di Pentagon. Di lokasi yang sama, Terry Strada, istri korban 9/11, mendesak pemerintah Trump agar menuntut pertanggungjawaban Arab Saudi atas dugaan dukungannya terhadap para teroris yang terlibat dalam serangan itu.















