Sumbawanews.com,- Washington D.C — Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan peringatan keras terhadap Oman, memperingatkan bahwa negara Teluk itu akan menghadapi “konsekuensi serius” jika terbukti membantu Iran mengendalikan Selat Hormuz. Pernyataan itu dilontarkan dalam rapat kabinet pada Selasa (27/5/2026), di tengah meningkatnya ketegangan di jalur maritim paling strategis di dunia.
“Oman akan berperilaku seperti orang lain. Atau kita harus meledakkan mereka. Mereka mengerti itu. Mereka akan baik-baik saja,” tegas Trump, dalam kutipan yang langsung mengejutkan para diplomat regional. Ancaman itu tidak hanya mencerminkan retorika khasnya, tetapi juga memperdalam krisis diplomasi yang sudah memanas sejak Iran menutup Selat Hormuz pada akhir Februari lalu.
Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab, menjadi arteri vital bagi perdagangan minyak global—sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati jalur ini setiap hari. Penutupan oleh Iran telah memicu lonjakan harga minyak dan kekhawatiran akan gangguan ekonomi global. Kini, laporan dari *The Guardian* mengungkap bahwa Teheran sedang berunding dengan Oman untuk menerapkan sistem tarif tol bagi kapal yang melintas, sebuah inisiatif yang menurut Washington merupakan upaya Iran untuk secara de facto menguasai perairan internasional.
Trump menolak keras gagasan itu. “Selat itu akan dibuka untuk semua orang. Tidak ada yang akan mengendalikannya. Kita akan mengawasinya,” ujarnya tegas. Pernyataan itu sekaligus menekan Oman—sekutu tradisional AS di kawasan yang selama ini dikenal menjaga netralitas—untuk memilih sisi: mendukung Washington atau bersekutu dengan Teheran.
Sementara itu, upaya pemerintahan Trump untuk mencapai kesepakatan damai dengan Iran terus mengalami kebuntuan. Trump menuduh Iran sengaja memperlambat negosiasi, menunggu hasil pemilu paruh waktu AS pada November mendatang. Di sisi lain, sejumlah anggota Partai Republik, termasuk Ketua Komite Angkatan Bersenjata Senat Roger Wicker, mengkritik keras wacana gencatan senjata 60 hari yang sempat diusulkan, menyebutnya sebagai “bencana” yang akan menghancurkan pencapaian militer AS dalam Operasi Epic Fury.
Oman, yang memiliki hubungan diplomatik seimbang dengan kedua belah pihak, kini berada di titik kritis. Negara kecil ini tidak memiliki kekuatan militer untuk melawan ancaman AS, namun juga tidak ingin kehilangan akses ke pasar energi Iran atau menghancurkan hubungan historisnya dengan Teheran. Respons resmi Oman hingga kini masih diam, tetapi sumber diplomatik di Muscat mengindikasikan bahwa pemerintah sedang mengkaji semua opsi—termasuk meminta mediasi dari negara-negara netral seperti Swiss atau Oman sendiri bisa menjadi juru damai.
Dengan ancaman Trump yang semakin agresif, dunia kini menanti apakah Oman akan menjadi korban geopolitik, atau justru menjadi jembatan yang menyelamatkan kawasan dari kehancuran lebih besar. Di tengah ketidakpastian, satu hal jelas: Selat Hormuz bukan lagi sekadar jalur pelayaran. Ia telah berubah menjadi medan perang tanpa peluru—di mana kata-kata presiden Amerika bisa lebih mematikan daripada rudal.















