Sumbawanews.com,- Tijuana — Di balik sorotan kamera dan gemuruh suporter, tim nasional sepak bola Iran menjalani masa persiapan Piala Dunia 2026 di sebuah kota yang lebih dikenal sebagai gerbang perbatasan daripada markas olahraga. Di sekitar Stadion Caliente, truk-truk keamanan berlalu-lalang dengan rutinitas militer: pria berseragam hitam, helm tertutup, dan senapan mesin yang tergantung di kanopi. Mereka bukan pasukan parade, tapi penjaga nyata—setiap jam, setiap blok, setiap sudut jalan yang menghubungkan kamp pelatihan dengan dunia luar.
Kamp ini, yang sebelumnya hanya rencana sementara, kini menjadi rumah sementara bagi tim Iran setelah rencana awal untuk berbasis di Tucson, Arizona, dibatalkan. Pergeseran itu terjadi tak lama setelah serangan militer AS dan Israel terhadap target di wilayah Iran, memicu kekhawatiran akan ancaman keamanan yang tak bisa diabaikan. FIFA, dalam panggilan mendadak dua pekan lalu, meminta Klub Tijuana menerima tim Iran—meski fasilitasnya jauh dari ideal: lapangan sintetis yang kasar, cuaca panas yang menyengat, dan lokasi yang berdekatan dengan zona rawan kejahatan.
Namun, bukan hanya infrastruktur yang berubah. Nuansa keamanan pun menjadi bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian para pemain. Para staf tim tidak lagi bebas berjalan-jalan di kota. Semua pergerakan diawasi. Bahkan untuk sekadar berlatih di luar, mereka harus melewati pos pemeriksaan yang dijaga oleh petugas bersenjata lengkap. “Ini bukan latihan biasa,” kata salah satu asisten pelatih yang enggan disebut namanya. “Kami berlatih untuk menang, tapi juga untuk pulang.”
Di sisi lain, warga Tijuana justru menyambut hangat kehadiran tim Iran. Di pasar-pasar lokal, para pemain sering dihampiri oleh warga yang mengucapkan salam dalam bahasa Farsi, atau sekadar memberi senyum dan tanda jempol. Cerita tentang sekelompok kartel lokal yang membatalkan rencana perampokan setelah mendengar nama “Iran” pun beredar luas—sebuah ironi yang menyentuh: di tengah ketegangan geopolitik, sepak bola justru menjadi jembatan ketenangan.
Stadion Caliente, yang biasanya sepi dan dihindari klub-klub liga domestik karena kondisi lapangannya, kini berubah menjadi benteng yang terisolasi namun penuh semangat. Di dalam, para pemain seperti Alireza Jahanbakhsh dan Sardar Azmoun berlari, mengoper bola, dan berlatih set-piece di bawah terik matahari. Di luar, senapan mesin terus berputar—sebuah bayang-bayang nyata dari dunia yang tak bisa mereka tinggalkan, bahkan saat mereka bermain.
Piala Dunia 2026 bukan hanya tentang trofi. Bagi tim Iran, ini adalah misi: membuktikan bahwa di tengah konflik, ketegangan, dan kekhawatiran, semangat sepak bola tetap bisa hidup—dengan tenang, dengan disiplin, dan dengan keberanian yang tak terlihat oleh kamera.

















