Home Berita Internasional Tentara Israel Akui Rekan Menikmati Pembunuhan Warga Gaza

Tentara Israel Akui Rekan Menikmati Pembunuhan Warga Gaza

Sumbawanews.com,- Tiga tentara cadangan Israel mengungkapkan kengerian yang mereka saksikan di Jalur Gaza—bukan hanya tentang kekerasan, tapi tentang kegembiraan yang menyertainya. Dalam kesaksian yang diungkap Associated Press dan organisasi hak asasi manusia Breaking the Silence, para prajurit ini menggambarkan situasi di garis depan sebagai medan perang yang kehilangan batas moral: siapa pun yang mendekati “Garis Kuning” diperlakukan sebagai target, dan penembakan terhadap warga sipil—termasuk perempuan dan anak-anak—sering disambut dengan tawa dan pujian dari rekan-rekan sesama tentara.

Kesaksian ini berasal dari prajurit yang bertugas antara Oktober 2025 hingga Januari 2026, masa di mana Israel mengklaim sedang menjalankan fase pertama rencana gencatan senjata yang didukung Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Namun, menurut para tentara, perintah di lapangan justru bertentangan dengan narasi resmi. “Siapa pun yang melintasi garis itu harus ditembak di tempat,” ujar salah satu prajurit berusia 20 tahun, yang meminta identitasnya dirahasiakan. “Itu bukan kebijakan. Itu budaya.”

Mereka menceritakan insiden di mana sekelompok tentara bersorak setelah sebuah kendaraan Palestina ditembak hingga tewas semua penumpangnya—tanpa verifikasi, tanpa peringatan, tanpa alasan selain keberadaan mereka di dekat zona militer. “Kami tidak menembak karena ancaman. Kami menembak karena mereka ada di sana,” kata seorang lainnya. “Dan itu membuat kami merasa kuat.”

Militer Israel membantah bahwa ada kebijakan penembakan sembarangan. Dalam pernyataan resmi, mereka menegaskan bahwa aturan pelibatan tempur mengharuskan peringatan sebelum menggunakan kekuatan, dan hanya boleh diterapkan jika ada ancaman langsung. Namun, para tentara yang bersaksi menilai pernyataan itu sebagai retorika kosong. “Komandan di atas berbicara tentang gencatan senjata di kantor. Di lapangan, mereka bilang: ‘Jangan biarkan satu pun melintas.’”

Garis Kuning—zona pemisah sementara di timur Gaza—kini menjadi titik paling berbahaya bagi warga sipil. Menurut data Palestina, sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober 2025, lebih dari 900 warga tewas dan 2.800 lainnya terluka akibat serangan Israel. Angka ini hanya sebagian kecil dari total korban yang telah mencapai lebih dari 72.900 jiwa sejak konflik meletus pada Oktober 2023.

Breaking the Silence, kelompok mantan tentara yang mendokumentasikan pengalaman di medan perang, menyatakan bahwa aturan pelibatan tempur di Gaza telah menjadi lebih longgar, memungkinkan penggunaan kekuatan berlebihan—bahkan terhadap orang yang tidak bersenjata. “Ini bukan lagi perang. Ini adalah sistem yang mengizinkan pembunuhan sebagai rutinitas,” kata seorang mantan perwira yang terlibat dalam dokumentasi tersebut.

Kesaksian ini bukan sekadar pengakuan pribadi. Ini adalah cerminan dari sebuah sistem yang membiarkan kekerasan menjadi norma. Di tengah upaya diplomatik yang terus bergulir, di Gaza, seorang anak kecil yang berlari menuju rumahnya yang hancur bisa saja menjadi target—dan di mata beberapa tentara, itu bukan tragedi. Itu adalah keberhasilan.

Previous articleKebakaran Hancurkan 250 Rumah di Kemayoran
Next articleKebakaran Pasar Jiung Ratakan 250 Los, 500 Jiwa Kehilangan Mata Pencaharian
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik