Sumbawanews.com,- Amerika Serikat diduga sengaja menghancurkan dua waduk air bersih di Sirik, Provinsi Hormozgan, Iran selatan, yang memasok kebutuhan air minum bagi lebih dari 20.000 warga di sepuluh desa sekitarnya. Serangan ini terjadi di tengah krisis kekeringan parah yang telah melanda Iran bertahun-tahun, memperparah penderitaan warga sipil yang sudah kesulitan mengakses air bersih.
Menurut pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Iran, serangan udara yang menargetkan infrastruktur sipil itu bukanlah kerusakan tak terduga, melainkan tindakan yang “diperhitungkan” dan melanggar hukum humaniter internasional. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei mengecam aksi tersebut sebagai “kejahatan perang”, menekankan bahwa menyerang sumber air—kebutuhan dasar manusia—adalah pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia.
Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) mengonfirmasi bahwa serangan itu juga merusak menara telekomunikasi di wilayah tersebut, sambil mengklaim bahwa Iran telah membalas dengan serangan terhadap pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait, dan Yordania. Laporan dari West Asia News Agency (WANA) menyebutkan, dua reservoir beton di distrik Bamani, sekitar 1.012 kilometer dari Teheran, hancur akibat serangan udara, dengan kerugian diperkirakan mencapai 830.000 dolar AS.
Iran telah lama menghadapi tantangan air yang kritis. Data dari World Resources Institute menunjukkan bahwa negara ini menggunakan lebih dari 80 persen dari sumber daya air terbarukan tahunannya—tingkat yang diklasifikasikan sebagai “sangat tinggi” dalam skala risiko global. Kekeringan berkepanjangan, ditambah dengan manajemen sumber daya air yang buruk selama dekade terakhir, telah mengeringkan waduk, sungai, dan cadangan air tanah. Serangan terhadap infrastruktur air kini memperdalam krisis yang sebelumnya sudah mematikan.
Pernyataan Iran menekankan bahwa serangan ini bukan sekadar serangan militer, tetapi sebuah strategi yang menargetkan kelangsungan hidup warga sipil. Di tengah cuaca panas ekstrem dan kekurangan pangan, hilangnya akses air bersih berpotensi memicu bencana kesehatan publik di wilayah-wilayah terpencil yang sudah terisolasi.
Belum ada tanggapan resmi dari pemerintah AS terkait insiden ini. Namun, kritik internasional mulai menguat. Paus Leo XIV sebelumnya telah menyatakan bahwa serangan-serangan terhadap infrastruktur sipil di Iran “bukanlah perang yang adil”, sementara organisasi hak asasi manusia mendesak Dewan Keamanan PBB untuk segera menyelidiki dugaan pelanggaran hukum humaniter ini.
Dengan sumber daya air yang semakin menipis, setiap serangan terhadap waduk, pompa, atau saluran distribusi air kini bukan lagi sekadar kerusakan fisik—melainkan ancaman langsung terhadap nyawa ribuan orang yang tak bersalah.

















