Home Berita Internasional Senegal Terbelah: Faye Bentuk Kabinet, Sonko Menolak Bergabung

Senegal Terbelah: Faye Bentuk Kabinet, Sonko Menolak Bergabung

Sumbawanews.com,- Presiden Senegal Bassirou Diomaye Faye resmi mengumumkan kabinet baru yang mencakup sejumlah tokoh dari partai PASTEF, partai yang dipimpin oleh mantan Perdana Menteri Ousmane Sonko—sekaligus mantan mentor dan kini lawan politiknya. Namun, Sonko tegas menolak keterlibatan partainya dalam pemerintahan baru, menyatakan bahwa PASTEF tidak akan mengisi satu pun kursi menteri meski sejumlah anggotanya dimasukkan ke dalam daftar kabinet.

Pengumuman itu disampaikan Faye dalam siaran langsung televisi pada Senin (2/6/2026), kurang dari dua minggu setelah ia memecat Sonko dari jabatan Perdana Menteri dan membubarkan seluruh kabinet lama. Konflik antara keduanya memanas seiring perbedaan mendasar dalam penanganan krisis ekonomi, terutama terkait pendekatan terhadap Dana Moneter Internasional (IMF). Faye terbuka terhadap negosiasi pinjaman baru dari IMF, sementara Sonko tetap berpegang pada prinsip kedaulatan ekonomi dan menolak ketergantungan pada lembaga keuangan global.

Sonko, yang masih memegang kendali penuh atas PASTEF—partai yang didirikannya pada 2014 dan kini menguasai 130 dari 165 kursi di parlemen—mengklaim telah mengadakan pembicaraan panjang dengan Faye pada hari yang sama. “Beberapa poin kesepakatan memang tetap, tetapi yang lebih penting, muncul sejumlah perbedaan mendasar mengenai peran masa depan PASTEF,” ujar Sonko dalam unggahan di platform X. “PASTEF tidak akan berpartisipasi dalam pemerintahan baru, dan tidak akan diwakili oleh seorang menteri pun.”

Meski demikian, Faye tetap menunjuk Ahmadou Al Aminou Mohamed Lo, seorang ekonom senior, sebagai Perdana Menteri baru. Lo mengumumkan susunan 30 menteri, yang mencakup beberapa tokoh PASTEF yang bukan bagian dari jajaran pimpinan partai. Namun, nama-nama kunci seperti Sonko dan para deputinya yang pernah menjabat di kabinet sebelumnya justru absen total.

Ketegangan politik di Senegal semakin memburuk setelah Sonko secara mengejutkan terpilih sebagai Ketua Parlemen oleh anggota legislatif dari koalisi pendukungnya, dalam pemungutan suara yang diboikot oleh oposisi. Pemilihan ini dianggap sebagai respons politik terhadap pemecatannya, sekaligus memperdalam krisis konstitusional yang mengguncang negara itu.

Sonko, yang sempat menjadi figur paling populer di kalangan pemuda Senegal karena retorika pan-Afrikanya dan perlawanannya terhadap mantan Presiden Macky Sall, hampir pasti akan menang dalam pemilu presiden 2024 jika tidak dilarang maju akibat vonis pencemaran nama baik. Kini, ia berada di posisi strategis sebagai Ketua Parlemen—dengan kekuatan politik yang justru semakin besar meski dikeluarkan dari eksekutif.

Faye, yang baru menjabat sebagai presiden pada April 2024, mengatakan bahwa partai PASTEF perlu “didepersonalisasi” dari dominasi satu tokoh. Pernyataan itu dianggap sebagai sinyal bahwa ia ingin membangun kekuasaan sendiri, terlepas dari bayang-bayang Sonko yang masih sangat kuat di panggung politik.

Dengan kabinet baru yang terdiri dari campuran loyalis Faye dan anggota PASTEF non-pemimpin, serta penolakan tegas Sonko untuk bergabung, Senegal kini menghadapi tatanan pemerintahan yang rapuh—di mana kekuasaan eksekutif dan legislatif dikuasai oleh dua tokoh yang sama-sama mengklaim sebagai pewaris reformasi, namun tak lagi bisa bekerja sama.

Previous articleWali Kota New York Pertama Boikot Parade Israel
Next articleHyperOS 4 Bakal Rilis, Ini Daftar Ponsel Xiaomi dan Poco yang Dapat Update
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik