Home Berita Berita Utama Robot Humanoid Ikut Salat Idul Adha, Netizen Terbelah

Robot Humanoid Ikut Salat Idul Adha, Netizen Terbelah

Sumbawanews.com,- Viral di media sosial, sebuah robot humanoid bernama Unitree G1 terekam ikut salat Idul Adha berjamaah di sebuah masjid di Dubai, Uni Emirat Arab, pada Jumat, 27 Mei 2026. Adegan itu memicu perdebatan sengit di kalangan warganet: apakah mesin yang dirancang manusia boleh ikut dalam ibadah spiritual yang sakral?

Video berdurasi pendek itu pertama kali diunggah oleh akun Instagram Bu Sumaidah, seorang ibu yang mengatakan tujuan rekaman itu adalah “menyajikan konten edukatif untuk anak-anak tercinta.” Dalam rekaman itu, robot berpakaian gamis putih khas UEA, dengan semacam sorban di kepala, keluar dari sebuah SUV lalu berjalan tenang ke dalam masjid. Ia berdiri di antara jemaah manusia—sebagian besar warga Emirat dan ekspatriat—lalu meniru gerakan rukuk, sujud, dan duduk dengan presisi mekanis yang menakjubkan.

Robot ini bukanlah simbol religius, melainkan produk teknologi terkini dari perusahaan asal Tiongkok yang dikembangkan untuk berinteraksi dalam lingkungan sosial. Di UEA, negara yang giat mempromosikan inovasi teknologi sebagai bagian dari visi masa depan, robot sudah biasa ditemukan di bandara, pusat perbelanjaan, bahkan sebagai staf pelayanan publik. Namun, kehadirannya di ruang ibadah—terutama saat momen spiritual puncak seperti Idul Adha—menimbulkan pertanyaan mendalam: di mana batas antara kemajuan teknologi dan kehormatan spiritual?

Sebagian netizen memuji langkah ini sebagai simbol harmoni antara sains dan tradisi. “Ini bukan tentang ibadah, tapi tentang keberadaan. Robot tidak punya niat, tapi ia hadir sebagai pengingat: teknologi bisa menjadi bagian dari kehidupan kita tanpa menggantikan makna,” tulis seorang pengguna Twitter dari Jakarta.

Namun, sejumlah ulama dan aktivis agama menilai tindakan itu tidak tepat. “Salat adalah bentuk ketaatan yang berasal dari hati, bukan program. Robot tidak bisa berniat, tidak bisa merasakan kekhusyukan, tidak bisa berdoa. Ia hanya meniru gerak,” ujar Dr. Ahmad Fauzi, pakar teologi Islam dari Universitas Al-Azhar, Kairo, dalam pernyataan resminya.

Pihak otoritas UEA belum memberikan komentar resmi. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah Dubai secara terbuka menyatakan bahwa teknologi harus “menghormati nilai-nilai budaya dan agama,” bukan menggantikannya. Momen ini pun menjadi refleksi global: di era di mana kecerdasan buatan semakin canggih, bagaimana kita mempertahankan ruang-ruang yang tetap manusiawi?

Kini, video itu telah ditonton lebih dari 12 juta kali. Di satu sisi, ia menjadi simbol kemajuan. Di sisi lain, ia menjadi cermin pertanyaan paling mendasar: apa yang membuat kita manusia—dan apakah mesin boleh berdiri di tempat yang hanya boleh diisi oleh jiwa?

Previous articleJamaah Haji Bangkalan Kehilangan Jadwal Makan di Mina
Next articleSuami Istri Pemilik WO Ditangkap Diduga Tipu Calon Pengantin
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik