Sumbawanews.com,- Ribuan anggota Iglesia Ni Cristo (INC) memblokade jalan utama EDSA di Manila, Filipina, pada Selasa (30/6), dalam aksi massa yang memicu kemacetan parah selama jam sibuk pagi. Demonstrasi ini digelar sebagai bentuk protes terhadap rencana penangkapan Senator Rodante Marcoleta, salah satu sekutu dekat Wakil Presiden Sara Duterte yang sedang menghadapi sidang pemakzulan.
Marcoleta, yang juga merupakan anggota gereja INC, akan didakwa oleh Ombudsman Filipina atas dugaan korupsi terkait dana kampanye sebesar 75 juta peso (sekitar US$1,2 juta) yang tidak dilaporkan. Aksi ini berlangsung sehari setelah pengumuman resmi dari otoritas hukum, dan menjadi respons langsung dari komunitas keagamaan yang selama ini dikenal sebagai kekuatan politik paling terorganisir di negara itu.
Dalam pesan video yang diunggah di media sosial, juru bicara INC, Edwil Zabala, menegaskan bahwa aksi ini bukan sekadar mendukung Marcoleta, tetapi menuntut keadilan yang tidak tebang pilih. “Kami tidak akan berhenti menuntut keadilan, sekalipun Senator Marcoleta dipenjara,” ujarnya. “Penegakan hukum yang selektif adalah bentuk ketidakadilan, dan kami tidak akan diam.”
Kepolisian Filipina memperkirakan massa yang hadir mencapai 8.000 orang, dengan jumlah yang diprediksi terus meningkat sepanjang hari. Hanya jalur khusus bus yang tetap bisa dilalui, mengganggu mobilitas ribuan warga yang hendak berangkat kerja atau sekolah.
INC memiliki sejarah panjang dalam mendukung dinasti Duterte. Pada November 2025, organisasi ini pernah menggelar unjuk rasa raksasa yang diikuti ratusan ribu orang untuk menentang upaya pemakzulan Sara Duterte. Meski pemakzulan itu sempat dibatalkan Mahkamah Agung, Dewan Perwakilan Rakyat kembali mengajukan pemakzulan terhadapnya bulan lalu. Sidang di Senat dijadwalkan dimulai pada 6 Juli mendatang, dengan syarat 16 dari 24 suara senator dibutuhkan untuk menghapusnya dari jabatan.
Marcoleta dipandang sebagai salah satu senator kunci yang kemungkinan akan memberikan suara mendukung Sara Duterte dalam sidang pemakzulan. Kedekatannya dengan keluarga Duterte, serta posisinya yang strategis di Senat, menjadikannya simbol dalam perlawanan politik yang semakin memanas.
Sementara itu, dua sekutu politik lainnya dari Sara Duterte juga tengah terjebak dalam skandal hukum. Senator Jose “Jinggoy” Estrada telah didakwa terkait proyek banjir fiktif yang memicu kemarahan publik, sementara Ronald “Bato” Dela Rosa dikabarkan bersembunyi setelah dikeluarkan surat penangkapan oleh Mahkamah Pidana Internasional, terkait perannya dalam perang narkoba di masa pemerintahan Presiden Rodrigo Duterte.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. membatalkan agenda makan siang dengan media asing untuk memantau perkembangan situasi, menandakan betapa seriusnya dampak politik dari aksi massal ini.
Dengan latar belakang kepercayaan keagamaan yang kuat dan struktur organisasi yang kaku, INC terus menunjukkan kekuatannya sebagai aktor politik yang tidak bisa diabaikan. Aksi hari ini bukan hanya soal satu senator yang ditangkap — ini adalah pernyataan bahwa jemaatnya tidak akan tinggal diam ketika keadilan dianggap tergadaikan, bahkan jika yang terlibat adalah tokoh-tokoh yang pernah menjadi sekutu politik mereka.















