Sumbawanews.com,- Meski renovasi senilai 369 juta pound sterling (sekitar Rp 8,7 triliun) telah selesai di Istana Buckingham, Raja Charles III memutuskan untuk tetap menetap di Clarence House, bukan pindah ke istana ikonik itu. Keputusan ini diumumkan dalam laporan keuangan Kerajaan Inggris pada Juni 2026, menandai perubahan signifikan dalam tradisi monarki yang berlangsung sejak era Ratu Victoria.
Dengan usia yang memasuki akhir 70-an, Raja Charles dan Ratu Camilla memilih untuk menghindari gangguan besar akibat proses pemindahan beserta seluruh staf istana. Selain pertimbangan kenyamanan, keputusan ini juga didorong oleh alasan keamanan—jika mereka tinggal di Buckingham, akses publik ke bangunan bersejarah itu akan sangat terbatas. Sebaliknya, dengan tetap tinggal di Clarence House, yang berjarak dekat dan sudah menjadi rumah mereka sejak pernikahan pada 2005, istana utama bisa dibuka lebih lama bagi wisatawan, sekaligus meningkatkan pendapatan kerajaan dari tiket masuk.
Renovasi selama 10 tahun itu menyentuh seluruh infrastruktur kritis: kabel listrik usang, pipa timbal, boiler, dan sistem listrik yang belum diperbarui selama enam dekade. Proyek ini dibiayai melalui kenaikan sementara Sovereign Grant, dana publik yang mendukung tugas resmi keluarga kerajaan. Meski tidak lagi menjadi tempat tinggal, Buckingham tetap menjadi pusat operasional dan seremonial monarki. Jamuan kenegaraan, resepsi duta besar, pertemuan dengan Perdana Menteri, dan acara besar seperti Trooping the Colour tetap digelar di sana.
Juru bicara Istana Buckingham menegaskan, Raja Charles tetap memiliki “kecintaan mendalam” terhadap istana itu dan menghargai perannya sebagai simbol negara. Ruang pribadi di dalam kompleks istana tetap tersedia untuknya dan Ratu Camilla, digunakan saat mereka berada di London untuk istirahat atau keperluan mendadak. Bendera kerajaan, Royal Standard, tetap berkibar di kedua kediaman—Buckingham dan Clarence House—menandakan kehadiran resmi monarki.
Dalam laporan yang sama, Raja Charles juga menjadi penguasa Inggris pertama yang secara terbuka mempublikasikan pembayaran pajaknya. Pada tahun pajak 2024–2025, ia membayar sebesar 12,9 juta pound sterling, menjadikannya salah satu dari 100 pembayar pajak terbesar di Inggris. Angka ini naik dari 11,7 juta pound sterling pada tahun sebelumnya, menunjukkan komitmen baru kerajaan terhadap transparansi keuangan.
Perubahan ini bukan sekadar keputusan praktis, tapi juga simbolik: monarki modern yang tetap menjaga martabat sejarah, sambil beradaptasi dengan realitas abad ke-21. Istana Buckingham—tempat Ratu Elizabeth II melahirkan Charles dan memimpin negara selama tujuh dekade—tidak lagi menjadi rumah, tapi tetap menjadi jantung kekuasaan. Dan di balik pintu-pintu megahnya, sejarah terus berdetak, meski penghuninya memilih tinggal di rumah yang lebih tenang.















