Sumbawanews.com,- Presiden Lebanon Joseph Aoun secara tegas menuduh Iran menjadikan negaranya sebagai alat tawar dalam konflik geopolitik antara Teheran, Amerika Serikat, dan Israel. Dalam wawancara eksklusif dengan CNN, Aoun menyampaikan kelelahan mendalam rakyat Lebanon terhadap siklus kekerasan yang berulang akibat konflik antara Hizbullah—kelompok bersenjata yang didukung Iran—andai Israel.
“Kami sudah muak. Kami ingin hidup damai,” ujar Aoun, menekankan bahwa rakyat Lebanon berhak atas kehidupan yang bermartabat, bukan terus-menerus kehilangan rumah, sekolah, dan masa depan akibat serangan yang terjadi setiap beberapa tahun sekali.
Aoun tidak menyembunyikan kritiknya terhadap Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), yang dianggapnya sebagai pengendali de facto Hizbullah. “Ini bukan negara kalian. Ini negara kami,” tegasnya, menolak klaim Iran bahwa Lebanon adalah bagian dari strategi perlawanan terhadap AS dan Israel. Menurutnya, kepentingan Teheran justru bertentangan dengan kepentingan hidup rakyat Lebanon yang ingin menikmati stabilitas, bukan perang.
Pernyataan ini muncul di tengah tekanan diplomatik yang semakin memburuk. Iran diketahui mengaitkan kemungkinan kesepakatan damai antara AS dan dirinya dengan penarikan total pasukan Israel dari wilayah Lebanon selatan. Namun, Aoun menolak menjadikan tanah airnya sebagai jaminan dalam negosiasi antarkekuatan besar.
Dalam sebuah sinyal langka, presiden yang pernah menjabat sebagai kepala militer Lebanon selama delapan tahun ini menyatakan kesiapan penuh untuk melakukan negosiasi langsung dengan Israel. “Kami siap. Kami bersedia. Kami berkomitmen,” katanya, menekankan bahwa baik rakyat Lebanon maupun Israel sama-sama lelah dengan perang yang telah berlangsung sejak 1948. “Ini kesempatan besar. Mereka harus memilih: perang atau diplomasi.”
Namun, upaya gencatan senjata masih terhambat oleh penolakan keras Hizbullah terhadap pelucutan senjata selama Israel belum menarik pasukannya. Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menyebut pembicaraan damai sebagai bentuk “penyerahan diri” dan mengklaim bahwa sebagian besar warga Lebanon menolaknya. Aoun membantah narasi ini. Ia mengatakan telah berdialog langsung dengan warga dari berbagai latar belakang agama—termasuk komunitas Syiah—dan banyak di antara mereka mengaku lelah dengan kekerasan yang dipicu Hizbullah. “Mereka adalah rakyat Lebanon. Bukan rakyat Naim Qassem,” tegasnya.
Aoun juga menilai strategi militer Israel tidak akan pernah berhasil menghancurkan Hizbullah secara permanen. “Mereka bisa menginvasi seluruh negara, meratakan seluruh desa, tapi mereka tidak akan pernah mencapai tujuan mereka,” ujarnya. Menurutnya, solusi jangka panjang hanya mungkin melalui diplomasi—bukan serangan udara atau invasi darat. Ia menekankan bahwa penanganan Hizbullah harus menjadi tanggung jawab pemerintah Lebanon, tetapi hanya setelah Israel menarik pasukannya dari wilayah perbatasan.
Pengalaman pribadinya sebagai mantan jenderal yang pernah terluka dalam pertempuran menjadi dasar filosofisnya. “Saya masih membawa serpihan logam di tubuh saya,” katanya. “Tapi saya tidak ingin anak-anak saya, atau generasi mendatang, mengalami apa yang saya alami.”
Saat ini, Israel masih menduduki sejumlah desa di Lebanon selatan dengan alasan “pembersihan” terhadap keberadaan Hizbullah. Sementara pemerintah Lebanon, di bawah kepemimpinan Aoun, menyatakan komitmen terhadap pelucutan senjata kelompok bersenjata tersebut—namun enggan bertindak tegas, khawatir memicu konfrontasi langsung yang bisa menghancurkan stabilitas rapuh dalam negeri.
Dengan nada penuh keyakinan, Aoun menegaskan: “Saya lebih memilih negosiasi daripada perang.” Baginya, ini bukan sekadar kebijakan, tapi sebuah panggilan moral bagi bangsa yang sudah terlalu lama menderita.

















