Sumbawanews.com,- Presiden Joko Widodo kembali memperkuat hubungan strategis Indonesia dengan Prancis lewat kunjungan kenegaraan yang berbuah kesepakatan senilai US$3,5 miliar atau setara Rp61,25 triliun. Dalam lawatan yang berlangsung pekan lalu, Presiden Prabowo Subianto tidak hanya memperdalam diplomasi tingkat tinggi, tetapi juga membawa pulang sejumlah kolaborasi konkret di bidang energi, pertahanan, pendidikan, dan bisnis.
Kunjungan ini merupakan balasan atas lawatan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia tahun lalu. Dengan fokus pada transfer teknologi dan kemandirian industri, pemerintah Indonesia menargetkan tidak sekadar membeli alat, tetapi menguasai teknologi di baliknya—terutama dalam sektor pertahanan dan energi bersih.
Salah satu capaian utama adalah peluncuran France-Indonesia High-Level Business Council (FI-HLBC), sebuah forum tingkat tinggi yang digagas oleh Kadin Indonesia dan MEDEF International. Forum ini dirancang untuk mempercepat arus investasi dan perdagangan bilateral, dengan ambisi menaikkan nilai perdagangan dua negara hingga tiga kali lipat menjadi lebih dari US$7,8 miliar pada 2035, dari saat ini yang berada di angka US$2,6 miliar.
Di sektor energi, PT Pertamina mengukuhkan dua kesepakatan strategis. Pertama, bersama SLB/PT Schlumberger Geophysics Nusantara, Pertamina akan mengembangkan teknologi peningkatan produksi minyak (enhanced oil recovery), eksplorasi migas nonkonvensional, serta penerapan kecerdasan buatan untuk digitalisasi operasional. Kolaborasi ini juga mencakup program pengurangan emisi melalui carbon capture and storage (CCS), efisiensi energi, dan pengembangan energi panas bumi.
Kerja sama kedua dilakukan dengan TotalEnergies, raksasa energi Prancis, yang mencakup sektor hulu migas, perdagangan LNG, biofuel, dan energi terbarukan. Kedua pihak sepakat menjajaki pembangunan kilang hijau, proyek CCS/CCUS, serta inisiatif energi rendah karbon masa depan—langkah signifikan dalam transisi energi nasional.
Di bidang pertahanan, Danantara melalui PT Len Industri memvalidasi Letter of Intent dengan Thales, perusahaan pertahanan dan teknologi asal Prancis. Kesepakatan ini membuka jalan bagi pembangunan pabrik radar “Made in Indonesia”, pengembangan sistem tactical data link, komando dan kendali, fasilitas pemeliharaan, hingga pelatihan teknis bagi personel TNI. Ini merupakan wujud nyata dari target utama pemerintah: transfer teknologi, bukan sekadar impor alat.
Selain itu, pemerintah juga menggarisbawahi komitmen bersama dalam penguatan kerja sama pendidikan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), sebagai fondasi jangka panjang untuk inovasi dan kemandirian teknologi nasional.
Prabowo kembali ke Indonesia pada Sabtu (30/5) setelah kunjungan ketiganya ke Prancis dalam setahun ini. Dalam sejumlah pernyataan, ia menyebut hubungan kedua negara kini berada pada titik terbaik dalam sejarah diplomasi bilateral. Dengan total nilai kerja sama yang mencapai Rp61 triliun dan fokus pada penguasaan teknologi, bukan hanya pembelian, Indonesia tampaknya sedang membangun fondasi baru untuk kemandirian strategis di era ketegangan global.















