Sumbawanews.com,- Pada 16 September 1893, lebih dari 100 ribu orang berbondong-bondong memasuki Cherokee Strip di Oklahoma untuk merebut tanah yang sebelumnya dimiliki oleh suku asli Amerika. Peristiwa itu dimulai saat tembakan pistol menandai dimulainya perebutan lahan, di mana para pionir menunggang kuda dan kereta untuk secepatnya mengklaim petak tanah terbaik. Tanah yang dulunya dianggap gersang dan tak layak huni tiba-tiba menjadi incaran utama setelah perkembangan teknologi pertanian membuatnya bernilai tinggi. Perebutan ini menjadi puncak dari serangkaian “land run” yang digagas pemerintah AS untuk membuka wilayah reservasi suku asli bagi pemukim kulit putih.
Sebelumnya, pada tahun 1817, pemerintah AS telah memaksa suku Cherokee, Choctaw, dan kelompok asli lainnya meninggalkan tanah subur di wilayah tenggara menuju dataran kering di Oklahoma. Ribuan orang Cherokee tewas dalam perjalanan paksa yang dikenal sebagai “Trails of Tears.” Pada 1885, pemerintah menjanjikan tanah di Oklahoma timur akan menjadi milik mereka “selama rumput tumbuh dan air mengalir,” namun janji itu tak bertahan lama. Tekanan dari para petani dan pengusaha yang ingin membuka lahan baru memaksa Presiden Benjamin Harrison membuka wilayah Cherokee Strip pada 1889, memicu demam tanah yang mencapai puncaknya pada 16 September 1893. Dalam waktu semalam, kota-kota seperti Norman dan Oklahoma City berdiri dari tanah kosong, menjadi simbol perluasan wilayah AS yang mengorbankan hak-hak asli penduduknya.















