Sumbawanews.com,- Kerusuhan meletus di Belfast, Irlandia Utara, pada Selasa malam (9/6/2026), menyusul penangkapan seorang pencari suaka asal Sudan yang diduga menikam seorang pria hingga kritis di wilayah utara kota. Aksi kekerasan yang dipicu oleh kemarahan publik terhadap imigrasi berubah menjadi kekacauan luas: bus, mobil, dan toko dibakar, jalan-jalan diblokir, dan asap tebal membubung di atas kawasan Shankill Road dan Newtownabbey. Sejumlah demonstran mengenakan penutup wajah, sementara kembang api meledak di tengah kekacauan.
Insiden penikaman terjadi sekitar pukul 22.30 Senin malam, di luar sebuah blok apartemen. Video yang beredar menunjukkan seorang pria menyerang korban berulang kali dengan pisau dapur, menargetkan kepala dan leher. Seorang warga lokal, Maitiu Mag Tighearnan, berani menghentikan serangan dengan memukul pelaku menggunakan tongkat hurling—tindakan yang kemudian diapresiasi sebagai keberanian sipil. Korban, seorang pria berusia sekitar 40 tahun, mengalami luka serius pada mata, wajah, dan punggung, dan kini dalam perawatan intensif.
Tersangka, pria berusia 30 tahun yang tiba di Irlandia Utara pada Februari 2023 setelah perjalanan dari Sudan melalui Paris dan Dublin, telah didakwa atas percobaan pembunuhan, kepemilikan senjata tajam di tempat umum, dan ancaman pembunuhan. Polisi menegaskan bahwa tersangka tidak memiliki catatan kriminal sebelumnya dan tidak terkait dengan jaringan terorisme. Namun, narasi yang menyesatkan—dipicu oleh akun media sosial sayap kanan seperti Tommy Robinson dan didukung oleh figur publik seperti Elon Musk—berkembang pesat, mengubah insiden kriminal menjadi isu politik yang memecah belah.
Kerusuhan tak hanya terbatas pada Belfast. Aksi serupa tercatat di Antrim, Bangor, dan Ballymena. Di London, sekitar 60 demonstran berkumpul di Parliament Square, menyerukan slogan anti-imigran dan menuduh polisi sebagai “pengkhianat.” Dua toko ponsel di Shankill Road dijarah, dan sebuah toko milik warga Afrika dibakar hingga rata dengan tanah. Komunitas imigran, terutama warga Sudan di Sandy Row, menutup usaha mereka sejak sore hari dan memilih tetap di rumah. Pusat Islam Belfast membatalkan salat malam berjemaah sebagai langkah pencegahan.
Pemimpin politik dan kepolisian serentak menyerukan ketenangan. Asisten Kepala Kepolisian Ryan Henderson meminta masyarakat “tidak terprovokasi oleh pihak anonim di dunia maya,” sementara Menteri Kehakiman Naomi Long menyebut para perusuh “berniat menghancurkan komunitas yang mereka klaim ingin lindungi.” John Finucane dari Sinn Féin menyebut kerusuhan itu “memalukan,” dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyebut serangan itu “mengerikan dan menjijikkan.” Pemimpin pemerintahan Irlandia Utara, Michelle O’Neill, menegaskan: “Kita adalah masyarakat yang baik. Saya tidak ingin melihat siapa pun hidup dalam ketakutan.”
Kepala Kepolisian Irlandia Utara, Jon Boutcher, menekankan bahwa tersangka tidak dikenal oleh aparat keamanan sebelumnya dan tidak memiliki hubungan dengan kelompok radikal. “Jangan tertipu oleh orang-orang di dunia maya yang tidak mengenal tempat ini,” ujarnya. Namun, upaya menenangkan situasi terhambat oleh arus informasi palsu yang terus mengalir, memperdalam ketakutan dan kebencian di antara komunitas yang selama ini hidup berdampingan.
Kasus ini bukan sekadar kejahatan kriminal—ia menjadi cerminan retaknya kepercayaan sosial di tengah gelombang populisme yang dimanfaatkan secara sengaja. Di tengah api yang membakar bus dan toko, masyarakat Irlandia Utara kini dihadapkan pada pilihan: membiarkan kebencian menguasai jalan-jalan, atau bangkit bersama untuk mempertahankan nilai kemanusiaan yang telah lama menjadi fondasi komunitas mereka.

















