Sumbawanews.com,- Tepi Barat – Pada Ahad malam, sekelompok pemukim Yahudi ilegal menyerang masjid di desa Burqa, Tepi Barat, dengan niat membakar bangunan sekaligus jamaah yang sedang berada di dalam. Serangan brutal ini terjadi dalam konteks kekerasan sistematis yang semakin mengganas terhadap warga Palestina di wilayah pendudukan.
Menurut laporan kantor berita WAFA, para pelaku pertama-tama membakar sejumlah kendaraan yang diparkir di dekat masjid di kawasan Ramallah, sebelum beralih menyerang rumah ibadah. Mereka mendobrak pintu masuk, membakar ambang pintu, lalu melarikan diri setelah api menyala. Jamaah yang berada di dalam berjuang mati-matian memadamkan api sebelum api menyebar ke seluruh bangunan. Rekaman video menunjukkan kerusakan parah pada bagian depan masjid, namun tidak ada laporan korban jiwa atau luka serius.
Insiden ini bukanlah kejadian terisolasi. Di kota tetangga Deir Dibwan, pemukim Yahudi juga membakar dua mobil hingga hancur total dan merusak dua kendaraan lainnya di dekat masjid setempat. Sementara itu, di Nahhalin, sebelah barat Betlehem, sekelompok pemukim—diduga didukung oleh pasukan pendudukan Israel—menimbun lahan pertanian seluas ratusan dunum dengan tanah dan batu. Lahan yang disabotase itu merupakan tempat tumbuhnya sekitar 200 pohon zaitun, serta menjadi sumber mata pencaharian warga setempat. Wilayah ini, yang dikenal sebagai Lembah Al-Jamala, telah bertahun-tahun menjadi sasaran perampasan tanah dan pencemaran limbah dari koloni Beitar Illit yang berdekatan.
Pemerintah Palestina mengutuk keras kedua aksi tersebut dalam pernyataan resmi pada malam hari. Kementerian Luar Negeri menyerukan agar PBB dan komunitas internasional segera mengambil tindakan konkret untuk menghentikan kekerasan yang “tidak terkendali” oleh pemukim ekstremis. Kritikus menyoroti pola sistemik: serangan semacam ini hampir terjadi setiap hari, namun penangkapan dan penuntutan terhadap pelaku hampir tak pernah terjadi. Pasukan Israel, yang seharusnya menjaga keamanan, justru sering kali berada di lokasi saat serangan berlangsung—tanpa intervensi.
Di tengah meningkatnya tekanan diplomatik global terhadap kebijakan Israel, aksi-aksi ini semakin memperjelas bahwa kekerasan oleh pemukim ilegal bukanlah tindakan individu, melainkan bagian dari strategi yang ditoleransi dan bahkan didukung secara implisit oleh struktur kekuasaan pendudukan. Warga Palestina di Tepi Barat kini hidup dalam ketakutan yang terstruktur—bukan hanya dari tembakan tentara, tetapi juga dari api yang menyala di ambang pintu masjid mereka, di tengah malam yang sunyi.

















