Home Berita Internasional Pemukim Israel Rampas 900 Domba, Bocah 16 Tahun Tewas Mempertahankan Ternak

Pemukim Israel Rampas 900 Domba, Bocah 16 Tahun Tewas Mempertahankan Ternak

Sumbawanews.com,- Jakarta — Dalam serangan terkoordinasi yang memicu kemarahan internasional, pemukim Israel bersenjata, didukung tentara Zionis, merampas 900 ekor domba milik petani Palestina di Tepi Barat, sekaligus menembak mati bocah 16 tahun yang berusaha melawan.

Korban bernama Yousef Kaabneh, remaja yang baru saja membantu ayahnya merawat kawanan domba sebagai satu-satunya sumber penghidupan keluarga, tewas ditembak di desa Jiljilya, utara Ramallah, pada Rabu lalu. Ia bukan korban kekerasan acak—tapi saksi bisu dari sebuah operasi militer yang dirancang untuk menguasai sumber daya.

Operasi itu bermula setelah laporan bahwa 120 domba dicuri dari kandang milik peternakan Tzur Levavi, sebuah pemukiman ilegal di Jabal al-Batin, Area A—wilayah yang secara hukum internasional berada di bawah kendali Otoritas Palestina. Pemukim yang mengaku sebagai korban, justru menjadi pelaku utama dalam serangan balasan yang terstruktur.

Pagi harinya, puluhan pemukim bersenjata, diawal oleh pasukan Israel, menyerbu tiga desa: Sinjil, Jiljilya, dan Abwein. Mereka memaksa masuk ke kandang-kandang, mengusir ternak, dan mengangkut domba-domba itu dengan truk. Tentara Israel tidak hanya diam—mereka membangun pos pemeriksaan darurat, menutup jalan, dan menghalangi warga Palestina dari menyelamatkan harta benda mereka.

“Mereka tidak hanya mencuri. Mereka membunuh anak saya sambil tersenyum,” kata Ali Kaabneh, ayah Yousef, sambil berdiri di atas tanah yang dulu menjadi kandang domba keluarganya. “Ini bukan aksi kriminal biasa. Ini kebijakan negara yang mengubah pencurian menjadi ekspansi, dan pembunuhan menjadi alat kontrol.”

Laporan dari media pro-pemukim seperti Israel National News mengakui keterlibatan aktif pasukan keamanan dan sukarelawan sipil Zionis dalam operasi tersebut. Sementara saksi mata dan organisasi hak asasi manusia menegaskan: tanpa perlindungan militer, serangan massal semacam ini tidak mungkin terjadi di wilayah yang seharusnya dijaga oleh otoritas Palestina.

Rampasan 900 domba—setara dengan ratusan juta rupiah nilai ekonominya—bukan sekadar kehilangan harta. Bagi masyarakat petani di Tepi Barat, domba adalah simbol ketahanan hidup, identitas budaya, dan sumber utama kurban di hari raya Idul Adha. Tahun ini, warga Gaza bahkan tidak bisa berkurban sama sekali akibat blokade. Di Tepi Barat, kini, mereka kehilangan ternaknya—dengan darah anak-anak mereka sebagai harga yang harus dibayar.

Ali Kaabneh tidak meminta belas kasihan. Ia hanya meminta keadilan. “Kami tidak punya senjata. Tapi kami punya sejarah. Dan sejarah tidak akan membiarkan mereka menghapus kami dengan cara ini.”

Di tengah keheningan dunia yang terpecah, kematian Yousef menjadi pengingat: di bawah pendudukan yang sistematis, bahkan seekor domba pun bisa menjadi alasan untuk membunuh.

Previous articleRazman Siap Jalani Hukuman, Tak Akan Kabur
Next articleSingapura Kunjungi Korea Utara dalam Diplomasi Langka
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik