Sumbawanews.com,- Pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 di Stadion Boston, Foxborough, AS, pada Senin, 29 Juni 2026, menjadi malam yang tak terlupakan bagi Paraguay. Tim berjuluk La Albirroja menaklukkan raksasa sepak bola dunia, Jerman, lewat drama adu penalti setelah bermain imbang 1-1 dalam waktu normal dan perpanjangan waktu. Kiper Orlando Gill menyelamatkan penalti keempat dari Nick Woltemade, mengantarkan negara landlocked di jantung Amerika Selatan ini melangkah ke babak 16 besar—sekaligus mencatatkan kemenangan terbesar dalam sejarah turnamen mereka.
Paraguay, yang tak memiliki akses ke laut, adalah negara kecil dengan populasi sekitar tujuh juta jiwa, namun memiliki jejak sepak bola yang mengagumkan. Di bawah bayang-bayang Brasil dan Argentina, tim nasional ini telah lima kali tampil di putaran final Piala Dunia, dengan pencapaian terbaik sebelumnya adalah lolos ke perempat final pada 2010 di Afrika Selatan. Kemenangan atas Jerman bukan hanya kejutan, tapi bukti bahwa keuletan, disiplin, dan semangat juang bisa mengalahkan kekuatan statis.
Lokasi geografisnya yang tersembunyi di pusat benua, membuat Paraguay sering disebut “Jantung Amerika Selatan”. Ibu kotanya, Asunción, adalah salah satu kota tertua di kawasan itu, dengan budaya yang kaya akan perpaduan antara bahasa Spanyol dan Guaraní—dua bahasa resmi yang digunakan secara seimbang oleh hampir seluruh penduduknya. Ekonomi negara ini bertumpu pada sektor pertanian, terutama ekspor kedelai dan daging sapi, serta menjadi salah satu pengekspor listrik terbesar dunia berkat PLTA Itaipu, yang dibangun bersama Brasil.
Dalam pertandingan melawan Jerman, La Albirroja tampil dengan pertahanan kokoh dan serangan mematikan di momen kritis. Gol awal dicetak oleh pemain sayap Mauricio yang menyundul bola melewati Joshua Kimmich di menit ke-67. Jerman menyamakan kedudukan lewat sundulan Timo Werner pada menit ke-89, memaksa pertandingan berlanjut ke extra time. Di babak tambahan, Jerman mendominasi penguasaan bola, tetapi gagal menembus pertahanan Paraguay yang bermain seperti benteng. Di adu penalti, kiper Orlando Gill menjadi pahlawan, menyelamatkan dua tembakan sekaligus—termasuk penalti penentu dari Woltemade yang seharusnya menggagalkan mimpi Paraguay.
Kemenangan ini langsung memicu euforia nasional. Pemerintah Paraguay menetapkan hari libur nasional, ribuan warga memadati jalanan Asunción dengan bendera merah putih, sementara para pemain timnas menjadi simbol kebanggaan bangsa. Di tengah kekalahan dramatis Jerman yang gagal mempertahankan gelar, Paraguay menunjukkan bahwa sepak bola masih bisa menjadi medium keajaiban—di mana ukuran negara bukan penentu kebesaran mimpi.
Kini, semua mata dunia tertuju pada langkah berikutnya La Albirroja. Apakah mereka bisa melanjutkan keajaiban ini hingga ke babak semifinal? Bagi Paraguay, yang pernah dianggap sebagai tim pinggiran, perjalanan ini sudah cukup untuk mengubah sejarah—dan mengingatkan dunia bahwa dalam sepak bola, kadang yang terkecil justru yang paling berani.















