Home Berita Internasional Newark Imbau Kurfew di Sekitar Pusat Detensi Imigran

Newark Imbau Kurfew di Sekitar Pusat Detensi Imigran

Sumbawanews.com,- Walikota Newark, Ras Baraka, mengumumkan penerapan jam malam di sekitar Delaney Hall, pusat detensi imigran yang kini menjadi simbol ketegangan nasional atas kebijakan deportasi massal pemerintahan Presiden Donald Trump. Keputusan ini diambil menyusul memanasnya aksi protes berkepanjangan yang berujung bentrokan dengan aparat keamanan.

Jam malam berlaku antara pukul 21.00 hingga 06.00 waktu Timur AS (01.00–10.00 GMT) dalam radius 0,8 kilometer dari lokasi pusat detensi. Jalan Doremus Avenue juga ditutup bagi kendaraan dan pejalan kaki yang tidak bisa membuktikan kebutuhan mendesak untuk masuk. Baraka menyatakan, “Kondisi semakin memburuk, dan ancaman terhadap keselamatan publik telah meningkat signifikan. Beberapa orang telah ditangkap karena membawa senjata.”

Delaney Hall, yang dikelola oleh perusahaan swasta GEO Group berdasarkan kontrak 15 tahun dengan Immigration and Customs Enforcement (ICE), kembali beroperasi sebagai pusat detensi imigran pada tahun lalu. Sejak itu, lokasi ini menjadi magnet protes berkelanjutan. Pada Mei 2026, aksi protes berlangsung hampir setiap hari, menyusul pengumuman mogok makan oleh para tahanan yang mengecam kondisi memprihatinkan: makanan kedaluwarsa, minimnya akses medis, dan dugaan kekerasan oleh petugas.

Data dari Transactional Records Access Clearinghouse di Universitas Syracuse menunjukkan bahwa sebanyak 71 persen tahanan ICE per April 2026 tidak memiliki catatan kriminal. Banyak di antara mereka yang pernah melanggar hukum hanya terlibat dalam pelanggaran ringan—bukan kejahatan serius. Namun, pemerintah federal tetap mempertahankan narasi bahwa deportasi massal diperlukan untuk “membersihkan” Amerika dari “yang terburuk dari yang terburuk.”

Untuk mendukung mogok makan, para aktivis membentuk rantai manusia, memblokir akses jalan, dan mendirikan barricade. Respons aparat pun keras: pemukulan dengan tongkat dan penyemprotan semprotan lada digunakan untuk membuka jalan menuju fasilitas. Tiga hari lalu, enam demonstran ditangkap dalam satu malam saja.

Gubernur New Jersey, Mikie Sherrill, menyerukan pembentukan zona protes khusus untuk mengurangi risiko bentrokan. Namun, ia juga menyalahkan kelompok ekstremis dari luar negara bagian yang datang memperkeruh situasi. “Saya tidak akan memberi ICE alasan untuk memperluas operasinya di New Jersey,” tegas Sherrill. “Saya tidak akan mempertaruhkan nyawa warga.”

Sherrill bahkan sempat dicegah masuk ke dalam fasilitas itu minggu lalu—sebuah insiden yang memicunya menyerukan penutupan Delaney Hall. Ia menekankan bahwa sebagian besar demonstran tetap damai, dan suara mereka harus didengar, bukan diredam.

Ketegangan ini bukan hal baru. Setahun lalu, Walikota Baraka dan Anggota Kongres LaMonica McIver ditangkap setelah mencoba memasuki pusat detensi untuk inspeksi. Tuntutan terhadap Baraka dicabut, tetapi McIver masih menghadapi proses hukum. Ia membantah tudingan itu sebagai upaya politis untuk membungkam kritik.

“Satu tahun lalu, pemerintahan Trump mengajukan tuduhan tanpa dasar terhadap saya karena melakukan pengawasan untuk melindungi imigran di Delaney Hall,” tulis McIver di media sosial. “Apakah mereka mencoba membungkam saya? Ya. Apakah risikonya meningkat? Ya. Apakah saya akan berhenti berbicara untuk Anda? Tidak pernah.”

Sementara itu, keluarga tahanan terus berdatangan di luar pagar, membawa makanan, bendera, dan doa—menjadi saksi diam atas kemanusiaan yang terperangkap di tengah kebijakan yang semakin keras.

Previous articlePenegakan Hukum Ketat Tekan Keberadaan LGBTQ di Malaysia
Next articleMSI Luncurkan Claw 8 EX AI+ dengan Harga Rp23 Jutaan pada 23 Juni
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik