Home Berita Internasional Netanyahu Terancam Kehilangan Warisan Iran

Netanyahu Terancam Kehilangan Warisan Iran

Sumbawanews.com,- Tiga bulan setelah serangan udara bersama AS-Israel melanda target di Iran, momentum militer yang awalnya dipuja sebagai titik balik strategis justru berubah menjadi diplomasi yang mengesampingkan Israel. Presiden Donald Trump, yang semula berdiri berdampingan dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di depan kamera memuji “keputusan bersejarah”, kini memimpin negosiasi rahasia dengan Teheran—tanpa melibatkan Tel Aviv secara signifikan.

Netanyahu, yang selama puluhan tahun membangun identitas politiknya sebagai “Mr. Iran”, kini terperangkap dalam ironi yang mematikan: keberhasilan taktis militer yang ia klaim sebagai bukti kekuatan Israel justru tidak menghancurkan rezim yang selama ini jadi musuh utamanya. Sebaliknya, kesepakatan sementara yang sedang dirumuskan Washington berpotensi melegalkan keberadaan uranium yang diperkaya Iran, menghapus blokade pelabuhan, dan memperkuat ekonomi Teheran—tanpa menjamin penghancuran program nuklir atau rudal balistiknya.

Di belakang layar, pejabat Israel mengaku kecewa mendalam. “Ini rasanya seperti kami dikorbankan,” ujar salah satu sumber kepada CNN. Netanyahu, meski tak pernah mengkritik Trump secara terbuka, telah mengirimkan sinyal kuat melalui kanal-kanal informal: ia mendesak serangan lebih luas terhadap fasilitas minyak Iran, menolak pencabutan blokade, dan memperingatkan bahwa kesepakatan yang hanya berupa “komitmen di atas kertas” akan menjadi bencana strategis. Namun, Gedung Putih menolak. Trump, yang kini lebih fokus pada narasi “akhir perang” daripada “penghancuran rezim”, memilih jalur yang dianggapnya lebih aman secara politik—terutama menjelang pemilu.

Ketegangan semakin memanas di Lebanon. Sementara Israel memperluas operasi militer di perbatasan utara untuk menunjukkan bahwa ia masih memiliki kebebasan bertindak, AS justru mendorong gencatan senjata yang mencakup Hizbullah—kelompok yang didukung Iran dan dianggap Israel sebagai ancaman eksistensial. Di dalam koalisi pemerintahan Netanyahu, menteri sayap kanan Itamar Ben Gvir dan Bezalel Smotrich terbuka menyerukan pembatalan batasan AS, bahkan mendesak Netanyahu untuk menantang Trump secara terbuka. “Kami tidak bisa berkompromi pada eksistensi negara,” tegas Ben Gvir.

Namun, Netanyahu memilih jalan lain: menyalahkan tim negosiator AS—Jared Kushner dan Steve Witkoff—yang dianggapnya terlalu fokus pada keuntungan ekonomi dan citra presiden, bukan keamanan Israel. Media pro-Netanyahu memperkuat narasi ini, memindahkan tanggung jawab dari sang perdana menteri ke para penasihat Trump. “Mereka mengutamakan keuntungan politik Trump, bukan keselamatan kami yang hidup di sini,” kata Yaakov Bardugo, presenter televisi yang dekat dengan lingkaran Netanyahu.

Tapi sumber dalam pemerintahan AS menilai ada kesalahan perhitungan mendasar dari pihak Israel. “Mereka terlalu fokus menggulingkan Iran, sampai lupa bahwa perang ini juga mengubah Washington,” ujar seorang sumber yang mengetahui diskusi rahasia. Trump, yang merasa narasi “Netanyahu mengendalikan AS” merusak citranya, secara sengaja menegaskan kendali: “Bibi orang yang baik, dia akan melakukan apa yang saya perintahkan,” katanya pekan lalu—sebuah pernyataan yang jelas mengingatkan siapa yang memegang kendali.

Di tengah semua ini, hasil militer Israel—meski spektakuler secara taktis—tidak mengubah peta strategis. Iran tetap bertahan. Program nuklirnya belum dibongkar. Hizbullah dan Hamas masih aktif. Jajak pendapat terbaru dari Institute for National Security Studies (INSS) menunjukkan 45% warga Israel percaya situasi terkait Iran kini lebih buruk daripada sebelum serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Hanya 31% yang melihat perbaikan. Hampir separuh responden yakin Israel sudah kalah—atau setidaknya tidak akan menang.

Netanyahu, yang berharap perang ini akan menjadi puncak warisan politiknya, kini berada di ambang kekalahan simbolis. Selama 30 tahun, ia membangun citra sebagai pemimpin yang tak pernah menyerah pada ancaman nuklir Iran. Ia menggambarkan dirinya sebagai benteng terakhir yang menahan kebangkitan kekuatan Syiah. Kini, ia berada di posisi yang paling ironis: harus menerima sebuah kesepakatan yang justru mempertahankan rezim yang selama ini ia perjuangkan untuk dihancurkan.

Kompensasi dari Trump—berupa normalisasi hubungan dengan Arab Saudi atau perjanjian pertahanan baru—mungkin bisa menenangkan koalisi sayap kanan. Tapi tidak akan mengembalikan kepercayaan publik. Sebab, di mata banyak warga Israel, ini bukan soal perjanjian. Ini soal kehormatan. Dan kehormatan yang dibangun selama tiga dekade, kini berisiko runtuh bukan karena serangan musuh, tapi karena keputusan sekutu terdekatnya sendiri.

Previous articleCina Uji Coba Misi Bulan dengan Shenzhou-23
Next articleChromebook Jadi Pintu Bongkar Korupsi Sistemik di Pendidikan
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik