Sumbawanews.com,- Meski tidak membahayakan, layang-layang yang diterbangkan anak-anak di Jalur Gaza menjadi alasan bagi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk mengancam meningkatkan operasi pembunuhan terhadap pihak yang dianggap bertanggung jawab. Ancaman ini disampaikan Netanyahu bersama Menteri Pertahanan Israel Israel Katz pada Ahad, 23 Agustus 2026, setelah rapat keamanan bersama Kepala Staf Militer Eyal Zamir dan sejumlah pejabat tinggi. Meski militer Israel mengakui tidak menemukan bahan mencurigakan pada layang-layang yang ditemukan di sekitar permukiman Israel, dan menyatakan benda-benda itu tidak membahayakan masyarakat, Katz memerintahkan tindakan “segera dan dengan kekuatan penuh” terhadap layang-layang, balon, atau drone yang datang dari Gaza, menyamakan mereka sebagai ancaman militer.
Hamas mengecam keras ancaman itu. Juru bicara Hazem Qassem menegaskan layang-layang tersebut hanyalah mainan anak-anak di kamp pengungsian, yang dijadikan alasan palsu untuk memperluas agresi Israel. Ia mendesak Amerika Serikat, mediator internasional, dan Dewan Perdamaian untuk menekan Israel menghentikan serangan yang merusak gencatan senjata, yang menurut Hamas telah dipatuhi sepenuhnya. Analis politik Palestina Iyad al-Qarra menilai ancaman ini bukan hanya strategi militer, tapi juga politik domestik Israel menjelang pemilu—mengalihkan perhatian dari persoalan internal sekaligus menciptakan suasana eskalasi tanpa dasar nyata. “Bagaimana mungkin negara nuklir sebesar Israel merasa terancam oleh layang-layang yang diterbangkan anak-anak?” tanyanya.
Militer Israel mengaku menemukan empat layang-layang di sekitar komunitas Nahal Oz dalam 24 jam—satu pada Jumat dan tiga pada Sabtu pagi—tanpa menemukan bukti bahwa benda itu sengaja dikirim ke wilayah Israel. Namun, sejumlah kepala dewan lokal di perbatasan telah menyerukan respons militer sebelum Katz mengeluarkan perintah resmi. Sejak gencatan senjata berlaku pada 10 Oktober 2025, pasukan Israel terus melanggar kesepakatan itu setiap hari, menewaskan 1.286 orang dan melukai 4.257 lainnya menurut Kementerian Kesehatan Palestina. Perang yang dimulai Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 73 ribu warga Gaza dan menghancurkan 90 persen infrastruktur sipilnya. Di tengah kehancuran itu, layang-layang kecil yang diterbangkan anak-anak menjadi satu-satunya simbol hiburan—yang kini justru dijadikan dalih untuk memperdalam bencana.















