Sumbawanews.com,- Jakarta – Ribuan warga sipil di Lebanon selatan terpaksa meninggalkan rumah mereka dalam skala massal menyusul serangan udara dan artileri Israel yang semakin intensif. Gelombang serangan yang meluas ini memicu kepanikan di kota-kota kecil dan desa-desa pinggiran, di mana infrastruktur sipil—sekolah, rumah sakit, dan pasar—terus menjadi sasaran.
Menurut laporan terbaru dari otoritas Lebanon, lebih dari 15.000 orang telah mengungsi dalam 48 jam terakhir, dengan sebagian besar bergerak menuju ibu kota Beirut dan daerah-daerah pegunungan yang dianggap lebih aman. Pusat-pusat evakuasi sementara di Tyre, Nabatieh, dan Bint Jbeil kini dipadati keluarga-keluarga dengan barang-barang seadanya, sementara anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan.
Pasukan Israel, yang sebelumnya fokus pada wilayah perbatasan, kini memperluas operasinya ke kawasan yang sebelumnya dianggap relatif tenang. Serangan udara diluncurkan secara beruntun sejak dini hari, dengan pesawat tempur F-15 dan drone menargetkan bangunan-bangunan yang diduga menjadi pos komando Hezbollah, meskipun tidak ada konfirmasi independen atas klaim tersebut.
Menteri Pertahanan Lebanon, Ali Hamieh, mengecam serangan itu sebagai “pelanggaran berulang terhadap kedaulatan nasional” dan menyerukan perlindungan internasional bagi warga sipil. “Kami tidak menyerang, tapi kami tidak akan diam saat rumah-rumah kami dihancurkan,” katanya dalam konferensi pers di Beirut.
Di sisi lain, militer Israel menyatakan bahwa serangan ini adalah bagian dari “operasi pencegahan strategis” untuk menghancurkan infrastruktur senjata Hezbollah yang berada di dekat perbatasan. “Kami tidak menargetkan warga sipil, tapi kami tidak akan membiarkan ancaman terus berkembang di ambang pintu kami,” ujar juru bicara militer, Kolonel Daniel Hagari.
PBB dan Komite Internasional Palang Merah (ICRC) telah mendesak kedua belah pihak untuk segera menghentikan kekerasan. “Kita sedang menyaksikan krisis kemanusiaan yang memburuk dengan cepat,” kata perwakilan PBB di Lebanon, Jeanine Hennis-Plasschaert. “Setiap detik yang terbuang adalah nyawa yang hilang.”
Di tengah kekacauan, para relawan lokal membentuk jaringan bantuan darurat—dari pengiriman air bersih hingga pelayanan medis darurat di bawah reruntuhan. Di desa Maroun al-Ras, seorang perawat berusia 67 tahun, Fatima Nasser, terus merawat pasien di ruang bawah tanah yang runtuh sebagian. “Kami tidak punya pilihan lain selain bertahan,” katanya sambil mengepel darah dari lantai beton.
Sementara itu, diplomasi global terus berjalan di latar belakang. Uni Eropa dan Arab Saudi meminta Dewan Keamanan PBB untuk mengadakan sesi darurat, sementara Iran dan Rusia mengecam “agresi tidak proporsional” Israel. AS, sekutu utama Tel Aviv, masih menahan diri dari mengutuk serangan tersebut, tetapi mengatakan sedang “mengkaji situasi secara mendalam.”
Dengan keheningan yang rapuh di sepanjang perbatasan, Lebanon selatan kini berdiri di ambang bencana kemanusiaan yang lebih besar—dengan harapan yang semakin tipis, dan ketahanan yang semakin mengeras.















