Sumbawanews.com,- Anggota parlemen dari Partai Konservatif, Richard Balfe, menyebut Perdana Menteri Inggris Keir Starmer telah kehabisan dukungan politik, menyebutnya “kehilangan teman” setelah berbulan-bulan menghadapi krisis kepercayaan di dalam partainya sendiri. Pernyataan tajam itu muncul tepat setelah Starmer mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pemimpin Partai Buruh, sebuah keputusan yang menandai berakhirnya masa kepemimpinannya di tengah serangkaian kegagalan kebijakan domestik dan hasil pemilu lokal yang memalukan.
Balfe, yang dikenal vokal dalam kritiknya terhadap pemerintahan Buruh, menilai Starmer sebagai sosok yang kompeten dalam diplomasi luar negeri—terutama dalam isu Ukraina dan hubungan internasional—namun gagal total dalam menangani persoalan dalam negeri. “Dia bisa bicara tentang keadilan di dunia, tapi tidak bisa menyelesaikan inflasi di rumahnya sendiri,” ujar Balfe, mengutip kekecewaan publik terhadap kinerja ekonomi, layanan kesehatan yang terpuruk, dan kegagalan memulihkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintah.
Pengunduran diri Starmer, yang diumumkan pada Senin (22/6/2026), bukanlah keputusan spontan. Lebih dari 100 anggota parlemen Partai Buruh telah mendesaknya mundur sejak beberapa bulan lalu, terutama setelah kekalahan telak dalam pemilihan lokal dan penurunan popularitas yang terus-menerus. Dalam pidato pengunduran dirinya, Starmer mengakui bahwa ia tidak lagi memiliki “mandat moral” untuk memimpin partai menjelang pemilu nasional berikutnya. Ia menegaskan akan tetap menjabat sebagai Perdana Menteri hingga penggantinya terpilih pada September mendatang, demi menjaga stabilitas pemerintahan.
Kandidat utama penggantinya, Andy Burnham, kini menjadi sorotan utama. Mantan Menteri Kesehatan yang dikenal dekat dengan basis buruh tradisional ini dianggap mampu menyatukan kembali faksi-faksi yang terpecah di dalam Partai Buruh. Namun, tantangan besar menanti sang pengganti: memulihkan kepercayaan publik yang hancur akibat krisis biaya hidup, kekurangan tenaga medis, dan kegagalan reformasi sistem pendidikan.
Meski kritik tajam datang dari lawan politik, sejumlah pengamat menilai Starmer tidak sepenuhnya gagal. Ia berhasil mempertahankan soliditas Inggris dalam aliansi internasional, memperkuat dukungan terhadap Ukraina, dan menjaga stabilitas kebijakan luar negeri di tengah gejolak global. Namun, di dalam negeri, ia dianggap terlalu kaku, terlalu fokus pada prinsip hukum sebagai mantan pengacara HAM, dan kurang peka terhadap nuansa sosial yang membara di kalangan rakyat biasa.
Pengunduran dirinya bukan hanya kekalahan pribadi, tapi simbol kegagalan sebuah ideologi yang berusaha menyeimbangkan antara reformasi dan tradisi—tanpa berhasil menyentuh hati rakyat. Di Downing Street Nomor 10, kucing ikonik Larry mungkin masih akan menyambut tamu, tapi kekuasaan yang pernah dipegang Starmer kini telah berpindah ke tangan-tangan yang belum teruji.















