Sumbawanews.com,- Sebanyak 52 orang tewas dalam bentrokan bersenjata sengit di hutan Guaviare, Kolombia tenggara, pada Kamis (28/5). Pertempuran terjadi antara dua faksi pembangkang dari bekas gerilya FARC yang saling berebut kendali atas jalur produksi dan perdagangan kokain—jantung dari konflik bersenjata yang telah berlangsung lebih dari enam dekade di negara itu.
Menteri Pertahanan Pedro Sanchez mengonfirmasi insiden tersebut dan mengirim pasukan ke lokasi untuk melindungi warga sipil yang terjebak di tengah kekerasan. Bentrokan ini terjadi hanya tiga hari menjelang pemilu presiden yang akan menentukan pengganti Presiden Gustavo Petro, sebuah momen krusial yang memperdalam ketegangan di tengah kekacauan keamanan.
Kedua kelompok yang terlibat adalah faksi pimpinan Nestor Gregorio Vera, dikenal sebagai Ivan Mordisco, dan kelompok yang dipimpin Alexander Diaz Mendoza, alias Calarca Cordoba. Keduanya menolak perjanjian damai 2016 yang menyerukan penyerahan senjata oleh lebih dari 13.000 anggota FARC. Sementara faksi Diaz Mendoza sedang dalam pembicaraan damai dengan pemerintah, faksi Vera tetap bersikeras melawan negara—terutama setelah gencatan senjata bilateral dengan pemerintah ditangguhkan pada 2024.
Pekan lalu, faksi terbesar FARC, Central General Staff, mengumumkan penangguhan operasi militer nasional terhadap pasukan keamanan hingga 10 Juni. Namun, penangguhan itu tidak mencakup konflik dengan kelompok bersenjata lain—membuka ruang bagi pertumpahan darah antar faksi yang kini memperlihatkan betapa rapuhnya gencatan senjata yang hanya bersifat sepihak.
Kolombia, yang selama puluhan tahun menjadi pusat produksi kokain global, masih menjadi medan perang tak berkesudahan yang didanai oleh perdagangan narkoba dan penambangan ilegal. Lebih dari 450.000 orang tewas dan jutaan lainnya terpaksa mengungsi akibat konflik berkepanjangan ini. Kekerasan terbaru di Guaviare bukan sekadar bentrokan kriminal—ia adalah cerminan dari kegagalan perdamaian yang belum menyentuh akar masalah: kekuasaan, kekayaan, dan keadilan yang terus terpisah dari rakyat biasa.
Dengan pemilu tinggal hitungan hari, dunia memperhatikan: apakah Kolombia mampu memilih masa depan yang damai, atau akan terus terperangkap dalam siklus kekerasan yang dibiayai oleh darah dan kokain.















