Sumbawanews.com,- Duta Besar Rusia untuk PBB, Vassily A. Nebenzia, mengecam gencatan senjata antara Israel dan Lebanon sebagai sebuah ilusi belaka. Dalam sidang darurat Dewan Keamanan PBB pada Selasa (2/6), ia menegaskan bahwa kesepakatan yang dimediasi Amerika Serikat sejak 17 April lalu justru menjadi selubung bagi operasi militer Israel yang terus berlanjut di wilayah selatan Lebanon.
“Gencatan senjata itu bukanlah jeda, melainkan kedok untuk melanjutkan agresi,” tegas Nebenzia. Ia menyoroti serangan berulang terhadap kota-kota sipil seperti Tyre, Braiqaa, Toul, dan Kfar Sir, yang telah menewaskan setidaknya 14 orang dan melukai puluhan lainnya—termasuk 13 staf rumah sakit di dekat Rumah Sakit Jabal Amel.
Nebenzia membandingkan taktik Israel di Lebanon dengan apa yang terjadi di Jalur Gaza: rumah-rumah diratakan, warga dipaksa mengungsi, dan infrastruktur vital dihancurkan. Menurutnya, tindakan ini bukan sekadar pelanggaran hukum humaniter, tapi juga pemicu perlawanan bersenjata yang semakin meluas. “Ketika semua jalan damai ditutup, satu-satunya pilihan yang tersisa bagi rakyat yang dijajah adalah perlawanan,” ujarnya.
Lebih jauh, diplomat Rusia itu menyalahkan AS dan Israel atas memburuknya situasi regional, yang menurutnya merupakan konsekuensi langsung dari tekanan terhadap Iran. Ia memperingatkan bahwa pendudukan berkelanjutan di Lebanon berisiko memicu konflik etnis dan sektarian yang memicu perang saudara, dengan dampak yang tak terkendali bagi seluruh Timur Tengah.
Serangan terbaru di Tyre, yang menargetkan fasilitas medis, memicu kecaman internasional dan mendorong PBB menggelar rapat darurat. Namun, meski gencatan senjata secara resmi masih berlaku, Israel terus melancarkan serangan udara dan artileri, menunjukkan bahwa kesepakatan itu tidak lagi dihormati sebagai dasar perdamaian, melainkan sebagai alat politik untuk memperkuat posisi militer.
Sementara itu, tekanan diplomatik terus meningkat. Prancis kini didesak mengirim kapal induk untuk melindungi warga sipil, sementara UNIFIL—pasukan perdamaian PBB di Lebanon—menghadapi krisis kepercayaan akibat penarikan sebagian pasukannya. Dalam situasi yang semakin rapuh, Rusia menyerukan penghentian segera semua operasi militer dan penegakan kembali resolusi PBB yang melindungi kedaulatan Lebanon.
Dengan korban sipil terus berjatuhan dan diplomasi terasa tak berdaya, pertanyaan besar kini bergema: apakah dunia masih percaya pada gencatan senjata yang hanya ada di atas kertas?















