Sumbawanews.com,- Korban tewas akibat gempa bumi dahsyat yang mengguncang pesisir utara Venezuela bertambah menjadi 188 orang, dengan ratusan lainnya masih dilaporkan hilang dan lebih dari seribu orang terluka. Bencana yang terjadi pada Rabu malam, 24 Juni 2026, diawali oleh dua gempa beruntun dengan magnitudo 7,2 dan 7,5, yang berpusat dangkal di dekat Moron, wilayah La Guaira—daerah yang telah dikenal rawan bencana sejak tanah longsor mematikan tahun 1999.
Presiden Majelis Nasional Jorge Rodriguez mengonfirmasi bahwa 1.520 korban luka telah dirawat di rumah sakit, sementara 157 orang masih belum ditemukan. Tim penyelamat terus bekerja keras untuk mengevakuasi lebih dari 200 warga yang diduga terjebak di bawah reruntuhan bangunan. Di tengah kekacauan, 138 gempa susulan tercatat dalam waktu 24 jam, memperparah ketakutan masyarakat dan menghambat upaya penyelamatan.
Kerusakan paling parah terpusat di Negara Bagian La Guaira, di mana 346 bangunan dan fasilitas umum rusak, termasuk 250 gedung, 20 pusat perbelanjaan, dan delapan rumah sakit yang terpaksa mengosongkan ruang perawatan demi keamanan pasien. Pemerintah Venezuela merespons dengan membentuk dana darurat senilai US$200 juta untuk membangun kembali infrastruktur vital, sementara Presiden sementara Delcy Rodriguez menetapkan status keadaan darurat nasional.
Pemerintah juga mengajak sektor swasta menyediakan alat berat untuk membantu operasi pencarian, sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa mengonfirmasi bahwa tim pencarian dan penyelamatan internasional akan segera tiba. “La Guaira kini adalah zona bencana,” ujar juru bicara PBB.
Para ahli geofisika menjelaskan bahwa kedalaman gempa yang sangat dangkal—hanya 10 hingga 22 kilometer—dan kedua gempa yang hampir bersamaan menciptakan efek resonansi mematikan. “Bayangkan dua orang berteriak sekaligus di ruang sempit. Getarannya tidak hanya bertambah, tapi saling memperkuat,” kata Marcos Ferreira, peneliti dari Survei Geologi Brasil, menggambarkan fenomena yang langka di wilayah ini.
Venezuela, meski berada di pertemuan lempeng Amerika Selatan dan Karibia, jarang mengalami gempa berkekuatan besar seperti ini. Namun, kejadian ini mengingatkan betapa rentannya infrastruktur di negara yang telah lama menghadapi krisis ekonomi dan ketiadaan pemeliharaan bangunan publik. Di Catia La Mar, warga terlihat berbaring di jalan-jalan, takut kembali ke rumah mereka yang retak dan rapuh.
Sementara dunia internasional menawarkan bantuan, pemerintah Venezuela berjuang mengatasi tantangan logistik dan kemanusiaan dalam skala yang belum pernah terjadi sejak dekade lalu. Dengan angka korban terus bertambah, harapan akan keajaiban penyelamatan semakin tipis—dan yang tersisa adalah duka yang mendalam, dan pertanyaan besar: apakah negara ini siap menghadapi bencana berikutnya?















