Sumbawanews.com,- Gelombang panas ekstrem melanda Eropa Barat pada Juni 2026, mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah pengamatan, memicu kebakaran hutan masif, korban jiwa, dan gangguan kesehatan massal. Layanan pemantauan iklim Uni Eropa, Copernicus, melaporkan suhu permukaan wilayah itu melonjak 3,06 derajat Celsius di atas rata-rata dekade terakhir, didorong oleh akumulasi polusi karbon yang memperparah frekuensi dan intensitas cuaca panas. Tiga gelombang panas berturut-turut menyebabkan kebakaran hutan meluas di Prancis dan Spanyol, dengan luas lahan terbakar mencapai 56 persen lebih tinggi dari rata-rata historis—di Prancis, 35.400 hektare hangus, empat kali lipat dari normal, sementara di Spanyol, 55.128 hektare tergulung api, dua kali lipat dari biasanya. Barcelona mencatat suhu tertinggi sepanjang sejarah: 40,5 derajat Celsius, dan seorang petugas pemadam kebakaran berusia 22 tahun tewas di Pegunungan Alpen saat berjuang memadamkan api.
Di Inggris, negara itu memasuki gelombang panas ketiga tahun ini, dengan suhu siang mencapai 34 derajat Celsius dan diprediksi bertahan selama sepuluh hari. Fenomena “tropical nights” membuat suhu malam mencatat rekor tertinggi, mengganggu tidur dua dari tiga warga Inggris menurut survei terbaru. Kepala Ilmuwan Met Office, Stephen Belcher, menyatakan kejadian ini sebagai bukti nyata dampak perubahan iklim. Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia memperkirakan sekitar 200 ribu orang meninggal akibat cuaca panas di Eropa dalam empat tahun terakhir, sebagian besar dapat dicegah dengan mitigasi yang lebih baik. Analisis Energy and Climate Intelligence Unit menunjukkan Inggris tertinggal dalam penghijauan kota, dengan rata-rata tutupan pohon hanya 18 persen—jauh di bawah rata-rata Eropa yang 30 persen—mengurangi kemampuan alami untuk menurunkan suhu saat gelombang panas melanda.















