Sumbawanews.com,- Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengaku akan melaporkan serangkaian pernyataan agresif Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan kepada pemerintah Amerika Serikat. Dalam rapat kabinet di Tel Aviv pada Senin (30/6/2026), Netanyahu menegaskan bahwa retorika Erdogan yang menyerukan kehancuran negara Yahudi itu tidak bisa diabaikan.
“Hampir tidak ada hari berlalu tanpa Erdogan menyerukan kehancuran Negara Israel. Kami menanggapi kata-kata tersebut dengan sangat serius,” ujar Netanyahu, seperti dikutip dari *The Times of Israel*. Ia menambahkan, Israel akan “menarik perhatian teman-teman Amerika kami terhadap pernyataan-pernyataan ini,” menunjukkan upaya diplomatik untuk menggalang dukungan Washington.
Ancaman Erdogan terhadap Israel semakin mengeras sejak pecahnya konflik di Gaza pasca-serangan Hamas pada 7 Oktober 2023. Pemimpin Turki itu secara konsisten menuduh Israel melakukan genosida, menyambut baik surat perintah penangkapan dari Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) terhadap pejabat Israel, dan mendesak PBB agar mempertimbangkan penggunaan kekuatan militer untuk menghentikan operasi militer Israel. Pada Maret 2025, dalam sebuah ibadah penutup Ramadan, Erdogan bahkan berdoa: “Semoga Allah, demi nama-Nya… menghancurkan dan meluluhlantakkan Israel yang Zionis.”
Pernyataan itu tidak sendirian. Menteri Dalam Negeri Turki baru-baru ini menyerukan agar Turki “membebaskan” Yerusalem, sementara pada 27 Agustus 2026, Erdogan menegaskan bahwa ideologi Zionis—yang ia sebut dibangun di atas genosida, pendudukan, dan ekspansionisme—bukan hanya menargetkan dirinya atau partainya, tetapi seluruh bangsa Turki. “Perjuangan kami melawan Zionisme adalah demi kelangsungan negara dan seluruh rakyat Turki,” tegasnya dalam pidato partai.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya dikenal dekat dengan Erdogan, pekan lalu menyiratkan kemungkinan Turki terlibat dalam konflik AS-Israel melawan Iran—meski tidak ada indikasi militer Turki yang menunjukkan persiapan serupa. Trump juga mengisyaratkan rencana penjualan senjata canggih ke Ankara, termasuk jet tempur F-35 dan puluhan mesin jet, sebuah langkah yang telah memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pejabat Israel selama berbulan-bulan.
Dengan ketegangan yang terus memanas, hubungan Ankara-Yerusalem kini berada di titik terendah sejak dekade lalu. Netanyahu, yang telah memimpin Israel selama lebih dari satu dekade, tampaknya memilih jalur diplomatik yang lebih strategis: mengalihkan tekanan ke Washington, bukan hanya sebagai bentuk protes, tetapi sebagai upaya memperkuat posisi Israel di tengah lingkungan geopolitik yang semakin berbahaya.















