Sumbawanews.com,- Di tengah reruntuhan jalan-jalan Khan Yunis, ribuan warga Gaza berkumpul untuk shalat Idul Adha—meski tanpa hewan kurban, tanpa kue-kue manis, tanpa jaminan keselamatan. Tapi mereka tetap datang. Dengan langkah berat, tapi hati yang tak tergoyahkan.
Tiga tahun berturut-turut, Ohood Nassar, penulis asal Jabalia, merayakan Idul Adha jauh dari rumahnya yang kini telah menjadi “zona merah”. Lahan peternakan hancur, domba-domba mati, dan blokade Israel sejak Oktober 2023 memutus aliran hewan kurban ke Gaza. Harga seekor domba melonjak hingga $6.000—sepuluh kali lipat dari harga sebelum perang. Keluarga-keluarga miskin, yang sejak dulu mengandalkan kurban sebagai simbol kepatuhan dan kebersamaan, kini hanya bisa menatap harga itu dengan mata berkaca-kaca.
Bukan hanya domba yang mahal. Sekilogram cokelat kini berharga $30, empat kali lipat dari harga lama. Kacang-kacangan, biskuit, dan permen—simbol-simbol kegembiraan Idul Adha—juga menjadi barang mewah. Tapi di tengah kelangkaan, justru semangat untuk merayakan hidup tak pernah padam.
Pada malam sebelum Idul Adha, Ohood berdiri di jendela rumah sewaannya di kawasan Remal, menatap keramaian di depan toko es krim Kazem—salah satu ikon tertua Gaza. Jalan dipenuhi pedagang, anak-anak berlarian, ibu-ibu membawa kantong belanjaan. Ia memutuskan turun, bersama ibu dan kakaknya, Zina, meninggalkan adiknya yang tertidur memeluk baju Idul Adha barunya. Mereka membeli es krim, berjalan di tengah kerumunan, seolah waktu berhenti sejenak.
Tapi suara pesawat tempur menggema di langit—kencang, mengancam. Ohood berdoa: semoga kali ini, tak ada yang jatuh. Ia tak menyangka doanya akan dijawab dengan ledakan.
Empat roket menghantam jalan tepat di mana mereka berdiri. Kaca berhamburan, debu mengepul, orang-orang berlarian sambil memeluk anak-anak mereka. Seorang ibu berteriak, suaminya dan ketiga anaknya terperangkap di dalam bangunan yang runtuh. Es krim di tangan Ohood jatuh. Ia berlari pulang, menelepon saudara-saudaranya yang juga berada di Remal. Tidak ada yang menjawab.
Ketika akhirnya saudaranya, Adi, menghubungi—selamat, hanya beberapa meter dari titik ledakan—ia menatap kembali jendela. Dan ia melihat sesuatu yang tak bisa dilupakan: orang-orang kembali ke pasar. Pedagang membuka kembali tenda-tenda mereka. Anak-anak berlari lagi. Ibu-ibu memilih cokelat, meski harganya setara gaji sebulan. Toko-toko tetap buka hingga pukul 4 pagi.
Pada pagi Idul Adha, keluarga Ohood menyajikan hati sapi beku sebagai sarapan—mengikuti tradisi lama, ketika makan pertama setelah kurban adalah hati hewan yang disembelih. “Aku ingin merasakan Idul lagi,” katanya. Tapi ketika azan subuh selesai, terdengar teriakan: “Tidak ada Tuhan selain Allah, dan syahid itu dicintai Allah.” Itu bukan seruan kegembiraan—itu suara pemakaman.
Dalam satu malam, 15 orang tewas di seluruh Gaza. Termasuk komandan Hamas Mohammed Awda, istrinya, dan tiga anaknya. Enam orang tewas di Remal saja. Dua puluh lainnya luka-luka.
Tapi mereka tetap merayakan.
Karena di Gaza, merayakan Idul Adha bukan karena hidup sudah aman. Bukan karena makanan cukup. Bukan karena rumah masih utuh.
Mereka merayakan—karena mereka masih hidup.
Dan dalam setiap tawa, setiap langkah ke pasar, setiap gigitan es krim yang harganya setara biaya obat—tersembunyi sebuah pemberontakan diam-diam: bahwa kehidupan tak bisa dihancurkan, bahkan oleh perang.
Di Gaza, perayaan adalah bentuk perlawanan paling murni.















