Home Berita Internasional Dutch Polisi Tendang Wanita Hamil di Pusat Asylum

Dutch Polisi Tendang Wanita Hamil di Pusat Asylum

Sumbawanews.com,- Malak Mahmoud, wanita hamil tua yang terekam kamera sedang dilempar ke tanah oleh seorang petugas polisi Belanda, telah berbicara eksklusif dengan Al Jazeera. Kejadian itu terjadi di pusat penampungan imigran di Zeist, ketika suaminya, seorang pria Palestina dari Gaza, ditangkap dalam operasi penegakan hukum. Dalam rekaman video yang tersebar luas, terlihat Malak yang sedang dalam kondisi rentan secara fisik terjatuh ke lantai setelah ditarik kasar oleh petugas, sementara ia berteriak meminta pertolongan dan memegang perutnya.

Pihak kepolisian Zeist dalam pernyataan resminya mengakui sedang meninjau penggunaan kekuatan oleh petugas dan telah membuka penyelidikan internal. Namun, hingga kini, mereka belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Al Jazeera mengenai apakah ada pelanggaran prosedur atau pelanggaran hak asasi manusia dalam insiden tersebut.

Malak, yang kini berada dalam usia kehamilan lanjut, menggambarkan kejadian itu sebagai pengalaman traumatis yang memperdalam rasa takut dan ketidakamanan sebagai keluarga pengungsi. “Saya tidak melawan, saya hanya memohon agar mereka tidak menyakiti saya atau bayi saya,” katanya dalam wawancara. Suaminya, yang belum diizinkan tinggal di Belanda karena status imigrasinya yang belum diputuskan, kini ditahan secara terpisah, dan pasangan itu tidak diperbolehkan berkomunikasi secara langsung.

Insiden ini memicu kemarahan luas di kalangan organisasi hak asasi manusia, aktivis imigran, dan warga Belanda. Kelompok-kelompok seperti Amnesty International dan VluchtelingenWerk Belanda menuntut transparansi penuh, penghentian penggunaan kekerasan terhadap wanita hamil, dan pemulihan hak-hak dasar keluarga tersebut. Menteri Urusan Imigrasi Belanda, yang baru saja menggantikan posisi sebelumnya, menyatakan bahwa “setiap tindakan aparat harus sejalan dengan prinsip kemanusiaan,” namun belum mengumumkan langkah konkret.

Kasus ini menjadi sorotan internasional di tengah meningkatnya tekanan politik di Eropa terhadap imigran dari wilayah konflik, khususnya dari Gaza. Banyak yang melihat insiden ini sebagai simbol dari kebijakan imigrasi yang semakin represif, di mana kekerasan fisik digunakan bukan hanya untuk menegakkan hukum, tetapi juga untuk menakut-nakuti kelompok rentan yang mencari perlindungan.

Previous articleTrump Marah: Netanyahu Bikin Dunia Benci Israel
Next articleTikTok Berubah Jadi Super App Tanpa Pemberitahuan
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik