Sumbawanews.com,- Pemerintah Kuwait merilis rekaman video yang menunjukkan detik-detik sebuah drone bersenjata asal Iran menabrak Terminal 1 Bandara Internasional Kuwait pada Rabu, 3 Juni 2026. Ledakan hebat mengguncang gedung utama, memicu kebakaran besar dan merusak sejumlah fasilitas penting. Insiden ini menewaskan satu orang dan melukai beberapa lainnya, memaksa otoritas penerbangan menangguhkan semua operasi penerbangan sementara waktu.
Rekaman yang dirilis resmi menunjukkan drone bergerak cepat dari arah utara, melintasi zona keamanan udara, lalu menghantam struktur beton terminal dengan presisi yang mengejutkan. Api dan asap tebal membumbung tinggi, memaksa evakuasi mendadak para penumpang dan staf. Pihak berwenang Kuwait menyatakan, serangan itu merupakan tindakan sengaja yang bertujuan mengganggu stabilitas keamanan regional.
Meski belum ada kelompok yang mengklaim tanggung jawab, otoritas Kuwait secara tegas menyalahkan Iran atas serangan ini, mengutip jejak teknologi dan pola serangan yang sebelumnya dikaitkan dengan kelompok bersenjata yang didukung Teheran. Pernyataan resmi dari Kementerian Luar Negeri Kuwait menegaskan bahwa serangan ini merupakan pelanggaran berat terhadap kedaulatan negara dan hukum internasional.
Respons internasional pun cepat menyusul. Amerika Serikat, yang saat ini dipimpin oleh Presiden Donald Trump, menyatakan “keprihatinan mendalam” dan menyerukan penyelidikan menyeluruh. Sekretaris Jenderal PBB juga meminta semua pihak menahan diri agar konflik tidak meluas di kawasan Teluk, yang sudah tegang akibat ketegangan antara Iran dan sekutu Baratnya.
Bandara Kuwait, yang menjadi pusat transportasi utama di kawasan Teluk, diperkirakan akan mengalami penundaan operasional hingga beberapa hari ke depan. Tim ahli teknis dari Uni Eropa dan AS telah diterjunkan untuk membantu investigasi, termasuk menganalisis sisa-sisa drone dan sistem navigasi yang digunakan.
Serangan ini menjadi salah satu insiden paling serius terhadap infrastruktur sipil di Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Dengan semakin seringnya penggunaan drone bersenjata sebagai senjata strategis, insiden di Kuwait mengingatkan dunia bahwa ancaman keamanan udara kini tak lagi terbatas pada serangan militer konvensional—tapi juga pada ancaman tak terlihat yang datang dari langit.

















