Sumbawanews.com,- Dalam hasil putaran pertama pemilu presiden Kolombia, kandidat kanan ekstrem Abelardo de la Espriella merebut posisi teratas dengan 43,74 persen suara, mengalahkan kandidat kiri Ivan Cepeda yang meraih 40,90 persen—hasil yang mengejutkan para pengamat dan mengguncang prediksi jajak pendapat. Kedua kandidat maju ke putaran kedua pada 21 Juni, setelah pemungutan suara Minggu (31/5) mengungkap perpecahan tajam di peta politik Kolombia.
De la Espriella, seorang pengacara kriminal yang tak pernah menjabat publik sebelumnya, menjadi simbol kebangkitan populisme kanan di Amerika Latin. Ia meniru gaya Donald Trump dan Javier Milei dengan janji-janji keras: “kekuatan besi” melawan kejahatan, pembangunan penjara raksasa, pemerintahan minimalis, dan pemulihan nilai-nilai keluarga tradisional. Kemenangannya bukan hanya soal program, tapi narasi: ia memposisikan diri sebagai “Los Nunca”—mereka yang selama ini diabaikan—melawan “Los Siempre”—elit politik yang terus berkuasa.
Pendukungnya berpesta di Barranquilla, kota pelabuhan tempat ia berbasis, sementara di Bogotá, para pendukung Cepeda terkejut. “Hasil ini tak sesuai jajak pendapat,” kata Juan Camilo Rodriguez, seorang pemilih kiri. Di sejumlah wilayah pedalaman—terutama di 16 dari 32 departemen—isu keamanan menjadi penentu. “Di kawasan tengah, orang lebih takut pada kriminalitas daripada ketimpangan ekonomi,” jelas Laura Bonilla dari PARES, lembaga riset perdamaian di Bogotá.
Namun, di pesisir dan daerah perbatasan Venezuela—yang lama dikuasai pemberontak—Cepeda tetap kuat. Ia dianggap sebagai penerus kebijakan Presiden Gustavo Petro, yang selama empat tahun terakhir mengalirkan proyek pembangunan sosial ke wilayah-wilayah terpencil. “Mereka merasakan perubahan nyata,” tambah Bonilla.
Kekalahan telak senator Paloma Valencia, kandidat kanan tradisional yang didukung mantan presiden Álvaro Uribe, menjadi indikator lain: partai konservatif Kolombia kini terpecah. Valencia hanya meraih 6,9 persen suara, jauh di bawah prediksi. Banyak suara konservatif beralih ke de la Espriella, yang berhasil menarik pemilih yang merasa dikhianati oleh elit politik lama.
Cepeda, yang awalnya menyerukan kehati-hatian terhadap hasil “pre-conteo” (penghitungan awal yang tidak mengikat), kini mulai menenangkan suara. Ia mengakui tidak ada bukti kecurangan, meski tertinggal 670.000 suara. Namun, para ahli memperingatkan: terlalu lama mempertanyakan integritas pemilu justru merugikan kampanyenya. “Mereka kehilangan waktu berharga untuk menjangkau pemilih tengah,” kata konsultan politik Miguel Silva.
Putaran kedua akan menentukan nasib Kolombia. Lebih dari satu juta suara dari kandidat tengah Sergio Fajardo dan 1,6 juta dari Valencia—yang telah mendukung de la Espriella—masih menggantung. Namun, wakil Valencia, Juan Daniel Oviedo, belum bersuara. “Siapa yang membuat lebih sedikit kesalahan, dialah yang menang,” kata strategis politik Miguel Jaramillo Lujan.
Dalam tiga minggu ke depan, Kolombia akan menyaksikan pertarungan antara dua visi: keamanan yang represif versus keadilan sosial yang berkelanjutan. Dan di tengah ketidakpastian, satu hal jelas—politik Kolombia tak lagi sama seperti dulu.















