Sumbawanews.com,- Sebuah perusahaan robotika asal Amerika Serikat, Foundation Future Industries, tengah menguji coba robot humanoid bernama Phantom MK-1 di medan perang Ukraina, sebagai bagian dari upaya memodernisasi logistik militer di tengah konflik dengan Rusia. Robot berbentuk menyerupai manusia ini dirancang bukan untuk tugas domestik, melainkan untuk mengambil alih misi berisiko tinggi—seperti pengiriman amunisi, obat-obatan, dan peralatan ke garis depan—di mana nyawa prajurit terancam.
Dua unit Phantom MK-1 kini sedang menjalani uji coba lapangan di wilayah-wilayah yang sulit diakses, didukung penuh oleh pemerintah AS dan bekerja sama dengan otoritas militer Ukraina. Uji coba ini bukanlah yang pertama: sejak invasi Rusia tahun 2022, Ukraina telah menjadi laboratorium hidup bagi teknologi militer otonom, dari drone penyerang hingga kendaraan darat tak berawak. Namun, kali ini, fokusnya bergeser ke humanoid—mesin yang mampu bergerak di lingkungan yang dirancang untuk manusia: tangga, koridor sempit, dan ruang bawah tanah yang sulit dijangkau robot beroda atau berkaki empat.
CEO Foundation Future Industries, Sankaet Pathak, mengakui bahwa Phantom MK-1 masih jauh dari sempurna. Robot ini mampu mengangkut beban maksimal 44 pon (sekitar 20 kg), belum tahan air, dan daya baterainya terbatas—belum memadai untuk operasi skala besar. Namun, hasil awal menunjukkan potensi signifikan. “Ini membuktikan bahwa robot bisa menggantikan manusia dalam tugas yang paling berbahaya,” ujar Pathak.
Untuk itu, perusahaan berencana mengirim generasi berikutnya—Phantom 2—ke Ukraina tahun ini. Versi baru ini, menurut Pathak, akan memiliki kapasitas muatan dua kali lipat dan “kemampuan luar biasa” yang belum diungkap secara rinci. Foundation Future Industries juga telah menerima kontrak penelitian senilai US$24 juta dari pemerintah AS untuk mengembangkan teknologi robot dalam inspeksi, logistik, dan penanganan senjata di ketiga cabang militer: Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara.
Target jangka pendeknya jelas: mengerahkan teknologi ini ke garis depan pasukan AS dalam 12 hingga 18 bulan mendatang. Diskusi intensif dengan pejabat Pentagon dan Komando Pertahanan Nasional tengah berlangsung untuk memperluas skala penerapan.
Namun, proyek ini tak lepas dari kontroversi. Foundation Future Industries diketahui memiliki hubungan dekat dengan Eric Trump, putra kedua Presiden Donald Trump, yang kini menjabat sebagai kepala penasihat strategi di perusahaan. Senator Demokrat Elizabeth Warren mengecam kontrak itu sebagai “korupsi terang-terangan,” menuding adanya konflik kepentingan antara kekuasaan politik dan bisnis militer.
Perusahaan membantah, menyatakan bahwa Eric Trump telah menjadi investor sejak sebelum bergabung sebagai penasihat, dan bahwa visinya bersama perusahaan adalah membangun kembali manufaktur strategis di AS. “Ini bukan soal hubungan keluarga, tapi soal keamanan nasional dan inovasi teknologi,” kata juru bicara perusahaan.
Di sisi lain, para ahli militer menilai potensi teknologi ini tak bisa diabaikan. Kateryna Bondar, peneliti senior di Wadhwani AI Center, CSIS, menjelaskan bahwa humanoid unggul dalam lingkungan perkotaan yang kompleks. “Robot beroda tidak bisa naik tangga. Robot berkaki empat terlalu besar untuk koridor sempit. Tapi manusia—dan robot yang meniru manusia—bisa masuk ke mana saja,” katanya.
Namun, tantangan tetap besar: biaya produksi yang mahal, kerentanan terhadap cuaca ekstrem, dan—yang paling mengkhawatirkan—pertanyaan etis tentang otonomi dalam pengambilan keputusan hidup atau mati. Saat ini, Phantom MK-1 masih sepenuhnya dikendalikan manusia. Tapi masa depan? Bisa jadi, robot yang bisa memilih sasaran sendiri akan segera hadir.
Kementerian Pertahanan Ukraina dan AS belum memberikan tanggapan resmi atas laporan ini. Tapi di medan perang, di mana setiap detik bisa menentukan nasib ratusan nyawa, inovasi tak menunggu persetujuan—ia bergerak. Dan kali ini, ia berjalan seperti manusia.















