Sumbawanews.com,- Duta Besar Amerika Serikat untuk ASEAN, Kevin Kim, menegaskan bahwa kawasan Asia Tenggara bukan sekadar mitra strategis, tetapi pusat penentu arah sejarah abad ke-21. Dalam acara peringatan 250 tahun kemerdekaan Amerika Serikat di Jakarta, Kamis (11/6/2026), Kim menyatakan bahwa masa depan global akan banyak ditulis di meja-meja pertemuan ASEAN, bukan hanya di Washington atau Beijing.
“ASEAN itu sangat penting bagi AS,” tegas Kim di Kedutaan Besar AS, menekankan bahwa kerja sama antara Washington dan blok 10 negara ini telah melampaui batas-batas diplomatik biasa. Ia menyebut bahwa Presiden Donald Trump sendiri hadir langsung dalam Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN ke-47 dan KTT ASEAN-AS ke-13 di Kuala Lumpur pada Oktober 2025—sebuah sinyal kuat bahwa kawasan ini menjadi prioritas tertinggi dalam strategi luar negeri Amerika.
Kolaborasi tak lagi terbatas pada isu keamanan atau perdagangan. AS kini bergerak bersama ASEAN dalam pengelolaan mineral kritis, pengembangan kecerdasan buatan, dan penataan norma teknologi masa depan yang adil dan inklusif. “Kami tidak hanya ingin bermitra, tapi bersama-sama membentuk aturan main baru,” ujar Kim.
Komitmen ini diperkuat dengan kunjungan Wakil Menteri Luar Negeri AS, Christopher Landau, ke Jakarta, yang bertemu langsung dengan Sekretaris Jenderal ASEAN, Kao Kim Hourn. Pertemuan itu bukan sekadar formalitas, melainkan bagian dari upaya sistematis Washington untuk membangun arsitektur keamanan dan ekonomi berbasis kawasan.
Kim juga mengutip pernyataan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, yang menyatakan bahwa perjalanan abad ke-21 akan ditentukan oleh dinamika di Indo-Pasifik. “Kami percaya, masa depan yang damai, stabil, dan sejahtera hanya bisa dibangun jika AS dan ASEAN berjalan berdampingan,” kata Kim.
Acara yang dihadiri sejumlah tokoh tinggi Indonesia—termasuk Menteri Koordinator Hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, dan Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim Hashim Djojohadikusumo—menunjukkan betapa dalamnya simbiosis kepentingan antara dua pihak. Bukan hanya soal kekuatan militer atau pasar ekonomi, tapi soal nilai: kebebasan, tata kelola yang transparan, dan ketahanan bersama di tengah ketidakpastian global.
Dengan latar belakang geopolitik yang kian rumit, ASEAN bukan lagi sekadar kelompok negara berkembang. Ia telah menjadi poros strategis yang tak bisa diabaikan—dan Amerika Serikat, dengan segala sumber dayanya, memilih untuk berdiri di sisi kawasan ini, bukan melawannya.

















