Home Berita Internasional AS Sita Kripto Iran Senilai Rp17,8 Triliun, Ekonomi Teheran Terpuruk

AS Sita Kripto Iran Senilai Rp17,8 Triliun, Ekonomi Teheran Terpuruk

Sumbawanews.com,- Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengklaim bahwa Washington telah menyita aset kripto milik Iran senilai sekitar US$1 miliar, atau setara Rp17,8 triliun, sebagai bagian dari kampanye tekanan ekonomi bernama “Operasi Economic Fury.” Menurut Bessent, langkah ini telah mendorong perekonomian Iran ke ambang kehancuran, dengan inflasi diperkirakan melampaui 200 persen dan sebagian besar pasukan militer tidak lagi menerima gaji.

Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Nasional Reagan, Bessent menyatakan bahwa serangan ekonomi yang digelar sejak Februari lalu—berbarengan dengan serangan militer terhadap target di Iran—telah memutus aliran keuangan vital rezim Teheran. “Kami telah mengambil satu miliar dolar aset kripto mereka,” ujarnya. “Dalam lima hingga enam minggu, kami berhasil memutus pasokan keuangan mereka hingga ke akar-akarnya.”

Bessent menambahkan bahwa pemerintah Iran kini terpaksa memberikan kupon makanan kepada rakyatnya dan mematikan akses internet untuk mengendalikan kekacauan sosial. Ia menuding bahwa dana sebesar US$400–500 juta per bulan—yang seharusnya digunakan untuk kepentingan publik—telah disalahgunakan oleh elit rezim untuk memperkaya diri dan mendanai kelompok bersenjata seperti Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Tidak hanya aset kripto, pemerintah AS bersama sekutu Eropa juga telah menyita properti mewah di luar negeri yang diduga merupakan hasil korupsi dan pencurian kekayaan rakyat Iran. “Ini bukan harta negara. Ini uang yang dicuri dari rakyat Iran,” tegas Bessent.

Ia juga menyinggung perubahan struktural dalam kepemimpinan Iran, menggambarkan bahwa faksi-faksi politik utama telah “dipenggal,” sehingga kini AS berhadapan dengan pemimpin tingkat ketiga yang lebih lemah dan terisolasi. “Kita tidak mengganti rezim—kita menghancurkannya dari dalam,” katanya.

Bessent menilai agresi Iran terhadap negara-negara tetangga, termasuk serangan rudal ke Israel dan pendekatan militer di Selat Hormuz, justru mempercepat isolasi Teheran. “Mereka membuat pekerjaan saya jauh lebih mudah,” ujarnya. “Dulu, negara-negara Teluk enggan mengakui keterlibatan mereka dengan Iran. Sekarang, mereka terpaksa memilih sisi.”

Pernyataan Bessent muncul di tengah upaya diplomasi yang masih berlangsung antara AS dan Iran, meskipun ia menegaskan bahwa Washington tidak lagi berbicara dengan para pemimpin lama. “Kita berurusan dengan tingkat ketiga sekarang—orang-orang yang tidak punya otoritas nyata, hanya kepatuhan,” katanya.

Analisis ekonomi independen belum dapat mengonfirmasi angka pasti aset yang disita atau tingkat inflasi yang diklaim, namun laporan dari lembaga keuangan internasional menunjukkan bahwa mata uang rial Iran terus melemah, harga kebutuhan pokok melonjak, dan cadangan devisa negara hampir habis. Sementara itu, Iran membantah klaim AS, menuduh Washington memperdalam krisis demi kepentingan politik domestik dan memperkuat aliansi dengan Israel.

Dengan langkah-langkah yang semakin agresif, AS tampaknya memperdalam strategi “tekanan maksimal” terhadap Iran—bukan hanya melalui sanksi, tapi juga dengan memanfaatkan celah teknologi keuangan digital. Jika klaim Bessent benar, ini menjadi salah satu operasi penyitaan aset kripto terbesar dalam sejarah geopolitik modern—dan mungkin menjadi titik balik dalam perang ekonomi antara Washington dan Teheran.

Previous articleAS Tetap Pertahankan Status Quo Taiwan
Next articleAS Serang Pulau Qeshm, Iran Balas dengan Serangan Drone dan Rudal
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik