Home Berita Nasional Waisak 2570 BE: Damai di Borobudur, Ucapan Menyentuh Hati

Waisak 2570 BE: Damai di Borobudur, Ucapan Menyentuh Hati

Sumbawanews.com,- Hari Raya Waisak 2570 BE diperingati dengan khidmat di seluruh penjuru Indonesia, dengan puncak perayaan di Candi Borobudur, Magelang, pada Jumat, 31 Mei 2026. Pada pukul 15.44.44 WIB, ribuan umat Buddha dari berbagai penjuru nusantara berbondong-bondong memadati teras-teras candi, menyalakan lilin, dan memanjatkan doa dalam keheningan yang menyentuh jiwa. Perayaan ini tidak hanya menjadi momen spiritual, tetapi juga kesempatan untuk merekatkan tali persaudaraan melalui ucapan-ucapan penuh makna yang mengalir dari hati ke hati.

Waisak, yang memperingati tiga peristiwa suci dalam kehidupan Sang Buddha—kelahiran, pencapaian Penerangan Sempurna, dan Parinibbana—menjadi refleksi mendalam tentang cinta kasih, toleransi, dan kebijaksanaan. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, pesan-pesan sederhana namun mendalam ini kembali menggema, baik dalam bentuk pesan singkat, kartu ucapan, maupun unggahan di media sosial.

Bagi keluarga, ucapan seperti *“Semoga rumah kita selalu menjadi tempat yang penuh ketenangan, di mana cinta kasih tak pernah pudar”* menjadi penutup sempurna untuk doa-doa pagi. Di kalangan sahabat, pesan seperti *“Semoga Waisak membawa ketenangan hati dan kebahagiaan yang berlimpah untukmu”* menggantikan sekadar ‘selamat hari raya’, menjadi pengingat bahwa kehadiran satu sama lain adalah anugerah.

Di tempat kerja, ucapan yang menggabungkan profesionalisme dan spiritualitas pun banyak digunakan: *“Semoga semangat cinta kasih dalam Waisak membawa suasana kerja yang lebih harmonis, di mana integritas dan kepedulian menjadi fondasi setiap keputusan.”* Pesan ini bukan sekadar basa-basi, tapi ajakan untuk membangun lingkungan kerja yang manusiawi.

Komunitas Buddha di berbagai daerah juga memanfaatkan momen ini untuk memperkuat solidaritas. Di Yogyakarta, misalnya, kelompok relawan membagikan makanan sehat kepada kaum dhuafa sambil menyampaikan pesan: *“Mari rayakan Waisak dengan tindakan nyata—menyebarkan kebaikan tanpa mengharap balasan.”* Di Bali, prosesi arak-arakan lilin di sepanjang jalan menjadi simbol cahaya yang tak pernah padam, meski gelap datang.

Guru dan dosen, yang dihormati sebagai pembawa ilmu dan teladan, menerima ucapan yang penuh rasa syukur: *“Terima kasih telah menjadi sumber ilmu dan inspirasi bagi banyak orang. Semoga kebijaksanaan yang Anda ajarkan terus menerangi jalan hidup kami.”* Ucapan ini bukan hanya penghormatan, tapi pengakuan bahwa pendidikan sejati tak hanya menyangkut otak, tapi juga hati.

Di media sosial, tagar #Waisak2570BE dan #DamaiBersamaBuddha menjadi trending, dengan ribuan unggahan yang mengajak masyarakat lintas agama untuk merayakan kemanusiaan. “Selamat Waisak untuk seluruh umat Buddha. Semoga kedamaian yang Anda rayakan menyebar ke seluruh dunia,” tulis seorang pengguna non-Buddha di Instagram, disertai foto dirinya menyalakan lilin di depan altar kecil di rumahnya.

Pemerintah melalui Kementerian Agama mengingatkan bahwa Waisak bukan hanya milik umat Buddha, tapi juga menjadi cermin nilai-nilai luhur yang bisa dihayati semua bangsa: cinta tanpa syarat, pengampunan yang tulus, dan keheningan yang membebaskan. Menteri Agama dalam pesannya menegaskan: *“Cinta kasih harus menjadi fondasi utama persatuan.”*

Di Borobudur, ribuan lilin yang menyala di sekeliling stupa utama membentuk cahaya yang tak terputus—seperti harapan yang terus hidup, meski malam panjang. Di sana, bukan hanya umat Buddha yang hadir. Banyak warga dari berbagai latar belakang agama datang, duduk diam, dan ikut merenung. Mereka datang bukan untuk beribadah, tapi untuk menghormati—dan menemukan kembali kemanusiaan yang sering terlupa.

Waisak tahun ini bukan sekadar perayaan ritual. Ia adalah panggilan—untuk kembali ke sumber kebaikan yang sama, di mana semua manusia, tanpa perbedaan, bisa duduk dalam damai, saling mengingatkan: *“Kita semua sedang berjalan menuju pencerahan, satu langkah, satu napas, satu cinta pada satu waktu.”*

Previous articleBocah Jatuh ke Kandang Gajah, Pengelola: Diduga untuk Konten
Next articleArus Balik Libur Panjang Penuhi Stasiun Jakarta
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik