Sumbawanews.com,- Jakarta – Wakil Presiden Amerika Serikat J.D. Vance tiba di Swiss pada Senin malam waktu setempat, dalam misi diplomatik rahasia untuk memulai pembicaraan langsung dengan perwakilan Iran mengenai program nuklir Teheran. Kedatangannya yang tidak diumumkan sebelumnya menandai langkah signifikan dalam upaya pemerintah AS untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 yang telah runtuh sejak penarikan diri Amerika Serikat di bawah pemerintahan Donald Trump.
Vance, yang tiba di ibu kota Swiss, Bern, dengan rombongan kecil termasuk pejabat keamanan nasional dan ahli nuklir, langsung melanjutkan pertemuan tertutup dengan duta besar Iran di Jenewa. Sumber diplomatik mengonfirmasi bahwa pembahasan fokus pada tiga pilar utama: pembatasan enrichmen uranium, akses inspektur IAEA ke fasilitas sensitif, dan pencabutan sanksi ekonomi yang memberatkan rakyat Iran.
Meski tidak ada pernyataan resmi dari pemerintah AS atau Iran, laporan dari sumber di kantor Perdana Menteri Swiss menyebut bahwa kedua pihak sepakat untuk menjaga kerahasiaan proses ini. “Ini bukan negosiasi publik. Ini adalah upaya menyelamatkan stabilitas regional sebelum krisis meledak,” kata seorang diplomat Eropa yang mengetahui detail pertemuan.
Kehadiran Vance—bukan Menteri Luar Negeri atau utusan khusus—menunjukkan tingginya prioritas Gedung Putih terhadap misi ini. Ia menjadi pejabat tertinggi AS yang terlibat langsung dalam pembicaraan dengan Iran sejak 2021. Dalam perjalanan sebelumnya, Vance sempat bertemu dengan pemimpin Uni Eropa di Brussels, meminta dukungan koordinasi jika tercapai kesepakatan.
Iran, yang sejauh ini menolak menyebut negosiasi ini sebagai “pembicaraan resmi,” mengaku siap “mendengar proposal yang adil dan realistis.” Namun, para analis memperingatkan bahwa jalan menuju kesepakatan tetap penuh ranjau—terutama karena tekanan dari kelompok militer Iran dan kekhawatiran Israel atas kemungkinan kembalinya Iran ke jalur senjata nuklir.
Pertemuan lanjutan direncanakan berlangsung dalam waktu 72 jam, dengan kemungkinan perpanjangan jika progres terlihat. Jika berhasil, ini akan menjadi terobosan diplomatik pertama AS-Iran dalam hampir delapan tahun, dan bisa mengubah peta keamanan Timur Tengah secara permanen.















