Home Berita Nasional Ulah Kawan Lama Hancurkan Mimpi Pernikahan Anggi

Ulah Kawan Lama Hancurkan Mimpi Pernikahan Anggi

Sumbawanews.com,- Kota Bogor — Mimpi Anggi Aulia Arsyad (25) untuk menikah bulan depan kandas dalam kekejaman yang tak terduga. Bukan oleh cinta yang berubah jadi benci, tapi oleh obsesi gelap seorang teman lama yang tak pernah mampu menerima kenyataan: ia hanya seorang sahabat.

Anggi, perempuan mandiri yang tumbuh sebagai yatim piatu dan dididik oleh pamannya, seorang kapten Kopassus, dikenal sebagai sosok penyayang, dermawan, dan pekerja keras. Ia menyelesaikan kuliah S1 sambil bekerja di kantor konsultasi hukum, menghidupi dirinya sendiri tanpa bergantung pada siapa pun. Kekasihnya, pria dari Makassar, bahkan sudah datang ke Bogor untuk merayakan rencana lamaran yang dijadwalkan Juni mendatang.

Namun, di balik ketenangan itu, tersembunyi bayang-bayang masa lalu.

M Febryan (26), teman sekolah SMK Anggi, telah menyimpan perasaan cinta yang tak pernah diungkapkan selama belasan tahun. Ketika keduanya kembali berkomunikasi lewat pesan pribadi di media sosial, Febryan mengira ada peluang. Tapi Anggi jelas: ia hanya ingin menjaga pertemanan. Bahkan saat ia menanyakan kabar orang tua Febryan—sebuah pertanyaan tulus—jawaban sang teman bahwa ia sudah kehilangan kedua orang tuanya justru memicu ledakan emosi yang tak terkendali.

“Dia sakit hati karena merasa dihina,” kata Kapolresta Bogor Kota, Kombes Rio Wahyu Anggoro, mengutip pengakuan Febryan. “Padahal, itu hanya obrolan biasa.”

Febryan tak menerima penolakan itu. Dua minggu setelah percakapan itu, ia merencanakan pembunuhan. Ia membawa golok dan dasi biru—senjata yang akan ia gunakan bukan untuk mengancam, tapi untuk membunuh. Pada Jumat malam, 22 Mei, ia mengajak Anggi bertemu di Kabupaten Bogor. Dengan dalih meminta maaf, ia meminta uang sebagai “ganti kerugian” atas rasa sakit hatinya. Anggi menolak.

Di dalam mobil miliknya, Febryan mengikat leher Anggi dengan dasi itu—tanpa kata, tanpa belas kasihan. Korban tewas di dekat Stadion Pakansari. Mayatnya dibawa ke Tol BORR, lalu dilemparkan dari jalan layang. Dua jam kemudian, jasadnya ditemukan di Jalan Sholeh Iskandar, Kota Bogor, pukul 01.15 WIB.

Febryan tak lari jauh. Ia mencoba kabur dengan mobil korban, tapi mobil itu terguling di Tol Cisumdawu saat dikejar polisi. Ia ditangkap dalam keadaan panik, dengan barang bukti masih di tangan: dasi biru, golok, dan ponsel yang menyimpan ribuan pesan penuh obsesi.

Kini, Febryan dijerat pasal berlapis: pembunuhan, pembunuhan berencana, penganiayaan berat, dan pencurian dengan kekerasan. Ancaman hukumannya: 15 hingga 20 tahun penjara. Tapi hukuman terberat bukanlah pidana—melainkan kehancuran seorang perempuan yang baru saja menemukan cinta, kebahagiaan, dan makna hidupnya.

Paman Anggi, Syamsudin, yang membesarkannya sejak kecil, menangis saat menceritakan kepergiannya. “Dia bukan pacarnya. Dia bukan siapa-siapa. Hanya teman sekolah. Tapi dia membunuh masa depannya—karena tidak mampu menerima bahwa cinta tidak selalu dibalas.”

Di rumah Anggi, lamaran yang sudah disiapkan kini hanya menjadi kenangan. Foto-foto calon pengantin yang belum sempat diambil, bunga-bunga yang belum sempat diberikan, dan janji-janji yang belum sempat diucapkan—semua tergantung di udara, seperti mimpi yang tak pernah jadi kenyataan.

Dan di balik semua ini, satu pertanyaan menggema: berapa banyak lagi perempuan yang harus kehilangan nyawa karena cinta yang salah paham, karena sakit hati yang tak terima, karena kekerasan yang bersembunyi di balik kata “aku mencintaimu”?

Previous articlePrabowo Tiba di Prancis, Bahas Kemitraan Strategis dengan Macron
Next article**Israel Sasar Pertanian Lebanon untuk Hancurkan Ketahanan Sipil**
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik