Sumbawanews.com,- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengembalikan Order of the White Eagle, penghargaan tertinggi Republik Polandia, menyusul pencabutan resmi oleh Presiden Polandia Karol Nawrocki atas keputusan Kyiv yang menamai satu unit militer sebagai Tentara Pemberontak Ukraina (UPA). Keputusan ini memperdalam sengketa sejarah yang telah lama mengganjal hubungan kedua negara, meski Polandia tetap menjadi salah satu pendukung utama Ukraina dalam perang melawan invasi Rusia.
Nawrocki, yang mengumumkan pencabutan penghargaan itu pada Jumat (19/6/2026), menyatakan bahwa UPA dianggap bertanggung jawab atas pembantaian warga sipil Polandia selama Perang Dunia II. Dalam pidato berdurasi 13 menit yang diunggah di media sosial, ia menegaskan bahwa penghormatan tidak bisa diberikan kepada kelompok yang diingat sebagai pelaku kejahatan terhadap rakyat Polandia. “Bagi mayoritas masyarakat Polandia, UPA tetap simbol kekejaman sejarah yang tak bisa dilupakan,” ujarnya.
Zelenskyy, dalam pernyataan resmi di platform X pada Sabtu (20/6), menjawab dengan tegas. Ia menyebut penghargaan itu diberikan bukan untuk dirinya, tetapi sebagai penghormatan kepada seluruh prajurit dan rakyat Ukraina yang berjuang mempertahankan kedaulatan. “Saya mengembalikan penghargaan ini bukan karena kekecewaan, tapi karena keyakinan bahwa rakyat Ukraina layak dikenang dengan kehormatan yang sejati,” tulisnya, disertai foto bukti pengiriman kembali tanda kehormatan tersebut ke Istana Kepresidenan Polandia.
Kontroversi ini muncul di tengah persiapan acara besar rekonstruksi Ukraina pascaperang yang akan dihelat di Warsawa, dengan partisipasi Zelenskyy. Namun, langkah ini justru memicu kekhawatiran bahwa perpecahan sejarah bisa dimanfaatkan oleh Rusia untuk melemahkan solidaritas Barat. Perdana Menteri Polandia Donald Tusk, yang merupakan rival politik Nawrocki, langsung merespons. “Garis depan berada di tempat lain,” katanya. “Perselisihan ini hanya menguntungkan Putin dan merusak kepercayaan sekutu kita.”
Di Ukraina, respons terbagi. Kepala Kantor Presiden Kyrylo Budanov menyebut tindakan Nawrocki sebagai “hadiah bagi agresor Rusia” dan menegaskan bahwa empat pejabat tinggi Ukraina lainnya juga akan mengembalikan penghargaan Polandia yang pernah mereka terima. Namun, mantan Perdana Menteri Arseniy Yatsenyuk mengecam keputusan Zelenskyy sebagai “kesalahan yang menggandakan kesalahan.” “Satu keputusan keliru dari Polandia tidak boleh dijawab dengan keputusan keliru dari kita,” ujarnya.
Hubungan antara Ukraina dan Polandia, yang sempat membaik setelah pertemuan bilateral di Warsawa pada Desember 2025, kini kembali tegang. Polandia telah menampung lebih dari empat juta pengungsi Ukraina dan menjadi saluran utama bantuan militer dan logistik bagi Kyiv. Namun, di balik dukungan resmi, muncul ketegangan sosial: warga Ukraina di Polandia semakin sering menghadapi diskriminasi dan stigma, terutama setelah isu UPA kembali mencuat di ruang publik.
Meski demikian, Zelenskyy menegaskan bahwa Ukraina tetap berterima kasih atas solidaritas Polandia. “Kami bangga pada setiap prajurit kami, dan tetap terbuka untuk dialog sejarah yang jujur dan berdasarkan fakta,” katanya.
Pertanyaan besar kini bergantung pada apakah kedua negara mampu menjaga kerja sama strategis di tengah luka sejarah yang belum sembuh — atau justru membiarkan masa lalu mengaburkan masa depan yang sama-sama mereka perjuangkan.















