Sumbawanews.com,- Uni Emirat Arab diketahui telah menjalankan puluhan serangan udara terhadap target strategis di Iran sejak awal konflik bersenjata antara Israel-AS dan Republik Islam, demikian laporan eksklusif The Wall Street Journal yang dirilis Jumat lalu. Media asal Amerika Serikat itu mengungkap peran aktif Abu Dhabi yang jauh lebih mendalam daripada yang selama ini diakui secara publik.
Menurut sumber-sumber yang akrab dengan operasi militer rahasia, UEA tidak hanya menjadi pendukung pasif, tetapi bertindak sebagai mitra operasional setara dengan Washington dan Tel Aviv. Serangan-serangan itu diluncurkan sejak hari-hari pertama konflik pada Februari 2026, bahkan terus berlanjut meskipun gencatan senjata telah diumumkan pada April lalu.
Dukungan intelijen dari AS dan Israel menjadi tulang punggung operasi ini. Target-target yang dihantam mencakup lokasi-lokasi krusial di Selat Hormuz: Pulau Qeshm dan Abu Musa, pelabuhan Bandar Abbas, kilang minyak di Pulau Lavan, serta kompleks petrokimia Asaluyeh—semuanya merupakan pusat infrastruktur energi dan logistik vital Iran.
Laporan itu juga menyebut bahwa UEA sempat mengajak Arab Saudi untuk bergabung dalam serangan terkoordinasi, meskipun Riyadh menolak terlibat langsung. Abu Dhabi, dengan pangkalan militer dan sistem pertahanan udara canggih, menjadi ujung tombak serangan udara di wilayah Teluk, sementara pesawat tempur dan drone dari AS dan Israel menyediakan data target, pelacakan, serta penilaian kerusakan.
Ketegangan memuncak setelah serangan balasan Iran pada 1 Maret 2026, yang menargetkan pelabuhan Jebel Ali di Dubai. Asap tebal mengepul setelah rudal-rudal Iran dicegat, namun puing-puingnya tetap menghancurkan sejumlah fasilitas di kawasan komersial terpenting Uni Emirat Arab. Insiden itu menjadi bukti nyata bahwa konflik ini bukan lagi perang antara dua pihak, melainkan sebuah koalisi militer yang tersembunyi—dengan UEA sebagai aktor kunci yang berdiri di garis depan.
Dengan terungkapnya peran ini, tekanan diplomatik terhadap Abu Dhabi diprediksi akan meningkat, terutama dari negara-negara non-blok dan sekutu Iran di kawasan. Sementara itu, pemerintah UEA masih menolak berkomentar secara resmi, mempertahankan kebijakan ambiguitas yang selama ini menjadi ciri strategi keamanannya.















