Sumbawanews.com,- Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kontroversi dengan pernyataan tak terduga: ia menyiratkan bahwa Kanada seharusnya menjadi negara bagian ke-51 Amerika Serikat. Pernyataan itu ia sampaikan lewat unggahan di platform Truth Social, menanggapi laporan Bloomberg yang menyebut Kanada memasuki resesi teknis setelah produk domestik bruto (PDB) negara itu turun dua kuartal berturut-turut.
Dalam unggahan itu, Trump hanya menulis dua kata: “Negara Bagian ke-51!” — sebuah kalimat yang langsung menjadi viral, sekaligus memperdalam spekulasi tentang niat politiknya terhadap tetangga utama AS itu. Ini bukan pertama kalinya Trump mengemukakan gagasan semacam ini. Sejak masa kampanye presiden hingga setelah meninggalkan Gedung Putih, ia kerap menyebutkan bahwa Kanada “secara alami” seharusnya bagian dari AS, terutama karena ketergantungan ekonomi, budaya, dan keamanan yang sangat erat antara kedua negara.
Pernyataan ini muncul hanya beberapa hari setelah Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyampaikan pesan diplomatik yang justru bertolak belakang. Dalam pidatonya, Carney menekankan pentingnya persatuan dan kemitraan strategis antara Kanada dan AS di tengah dunia yang semakin terpecah. “Kita hidup di dunia di mana integrasi telah dijadikan senjata,” ujar Carney, menambahkan bahwa nilai-nilai bersama dan sejarah kerja sama yang panjang membuat kedua negara tetap menjadi mitra tak tergantikan.
Carney tidak secara langsung merespons pernyataan Trump, tetapi nada pidatonya jelas mengisyaratkan penolakan terhadap gagasan aneksasi. Ia menekankan bahwa kekuatan Kanada justru terletak pada otonomi strategisnya — bukan pada penggabungan ke dalam struktur politik AS.
Meski pernyataan Trump sering dianggap sebagai retorika provokatif, kali ini ia datang di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tekanan geopolitik yang semakin kompleks. Kanada, yang kaya akan sumber daya alam, pasar konsumen stabil, dan sistem keamanan yang terintegrasi erat dengan AS melalui NAFTA dan NORAD, memang menjadi subjek diskusi strategis — namun bukan dalam konteks aneksasi.
Para ahli hukum dan politik menegaskan bahwa penggabungan Kanada ke dalam Uni Amerika Serikat adalah hal yang secara konstitusional mustahil tanpa persetujuan rakyat Kanada — sebuah kemungkinan yang hampir tak pernah terbayangkan dalam sejarah modern. Bahkan di kalangan pendukung Trump, banyak yang menyebut pernyataan itu sebagai “lelucon politik” atau upaya untuk menarik perhatian di tengah kampanye presiden 2028 yang sudah mulai bergulir.
Namun, dalam dunia politik yang semakin tidak terduga, apa yang tampak seperti lelucon bisa jadi awal dari narasi yang lebih serius. Dan kali ini, Trump tidak hanya mengomentari ekonomi Kanada — ia seolah menawarkan sebuah “solusi” yang tak diminta: menghapus batas negara, bukan memperkuatnya.
Sementara itu, Ottawa tetap tenang. Pemerintah Kanada belum memberikan respons resmi, tetapi sumber diplomatik mengatakan bahwa pihaknya lebih memilih “mengabaikan ucapan yang tidak relevan dengan realitas diplomasi modern.”
Di tengah ketegangan global — dari Timur Tengah hingga Ukraina — pernyataan Trump tentang Kanada mungkin terdengar absurd. Tapi bagi banyak pengamat, itu adalah pengingat bahwa dalam politik, bahkan yang paling tidak masuk akal pun bisa menjadi bahan bakar narasi besar.















