Sumbawanews.com,- Saat kesepakatan damai dengan Iran hampir terwujud, Presiden Donald Trump kembali mengalihkan perhatian dunia ke wilayah yang jauh dari medan perang: Greenland. Dalam unggahan terbarunya di Truth Social pada 22 Mei, Trump membagikan gambar buatan AI yang memperlihatkan dirinya berukuran raksasa, mengintip dari atas pegunungan es Greenland, dengan keterangan sederhana namun menggemparkan: “Hello, Greenland!”
Komentar itu bukan sekadar gurauan. Ini adalah sinyal terbaru dari upaya berkelanjutan Trump untuk menguasai pulau terbesar di dunia itu—meski Greenland adalah wilayah otonom Denmark, dan penduduknya dengan tegas menolak ide penjualan. Sejak kembali menjabat, Trump tak pernah berhenti menyuarakan niatnya untuk “mendapatkan” Greenland, bahkan mengancam akan menggunakan tekanan ekstrem jika diplomasi gagal. “Kami mungkin tidak akan mendapatkan apa pun kecuali saya memutuskan menggunakan kekuatan dan tekanan berlebihan—tapi saya tidak akan melakukan itu,” ujarnya di Davos bulan Januari lalu, seolah mempertahankan wajah diplomasi sambil menggenggam senjata.
Kini, upaya diplomatik AS semakin nyata. Pemerintah Washington baru saja membuka konsulat permanen di Nuuk, ibu kota Greenland, dan mengirim utusan khusus Jeff Landry—Gubernur Louisiana sekaligus penasihat kebijakan luar negeri Trump—untuk bertemu dengan Perdana Menteri Jens-Frederik Nielsen dan Menteri Luar Negeri Mute Egede. Landry menegaskan kunjungannya bertujuan “untuk mendengar dan belajar.” Namun, ratusan warga Greenland turun ke jalan, membentuk barisan protes di depan konsulat baru itu. Mereka melihat langkah AS sebagai upaya sengaja untuk memecah belah, terutama di tengah negosiasi sensitif yang sedang berlangsung antara Copenhagen, Nuuk, dan Washington.
Para pendukung Trump berargumen bahwa Greenland menyimpan potensi strategis luar biasa: cadangan uranium, mineral langka kritis untuk teknologi militer, dan sumber daya minyak yang belum dieksplorasi penuh. Letaknya yang berada di jantung Arktik juga menjadikannya titik pengawasan militer yang tak ternilai harganya dalam persaingan geopolitik antara AS, Rusia, dan Tiongkok.
Namun, opini publik di dalam negeri AS justru berbeda. Survei Pew Research Center awal tahun ini menunjukkan 58 persen warga dewasa Amerika menolak gagasan pengambilalihan Greenland, hanya 21 persen yang mendukung, dan 20 persen lainnya ragu-ragu. Di tengah upaya AS untuk menutup perang dengan Iran—konflik yang telah berlangsung sejak 28 Februari dan mengguncang pasar energi global—Trump justru memilih untuk memperdalam ketegangan di Kutub Utara.
Sementara para diplomat Eropa menahan napas, dan Denmark menegaskan kembali bahwa Greenland “bukan untuk dijual,” Trump tampak tak peduli. Dalam dunia politiknya, setiap kesepakatan besar—baik dengan Iran maupun dengan Greenland—adalah bagian dari satu strategi: memperluas kekuasaan AS, satu pulau es sekaligus. Dan kali ini, ia tak hanya menawarkan perdamaian. Ia menawarkan kejutan.















